Kisah Mengharukan Abu Lubabah Sahabat Rasul yang Berkhianat

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Suatu hari seorang pemuda berlarian ke arah Kota Nabawi dan mengikatkan dirinya di sebuah tiang yang kokoh sebab telah digali olehnya lubang agar semakin kuat tiang itu. Sekujur tubuhnya terikat sudah, dan ia pun dengan sengaja melakukan hal itu demi menyiksa dirinya.

Hingga hari berganti hari ia tetap bertahan pada pendiriannya itu tanpa beranjak sedikit pun dari tempat penyiksaan yang ia buat sendiri. Rasa lapar dan haus dahaga pun sudah tak terpikirkan lagi bagi pemuda itu. Entah apa yang dipikirkannya, namun ia tak terlihat goyah untuk menyerah menghukum dirinya dengan mengikat tubuhnya di tiang tersebut. Bahkan tatapan dari puluhan penduduk sekitar yang menyaksikan aksinya itu pun tak menjadi masalah baginya. Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran pemuda itu?

Keadaan pemuda ini digambarkan di dalam Kitab At-Tawwabin karya Ibn Qudamah. Selama tujuh hari tujuh malam badannya terikat di tiang Kota Nabawi dan tak berniat beranjak dari sana.
Ibn Qudamah dalam kita At-Tawwabin mengkisahkan kejadian itu :

وَارْتَبَطَ أَبُو لُبَابَةَ سَبْعًا فِي حَرٍّ شَدِيدٍ لا يَأْكُلُ وَلا يَشْرَبُ وَقَالَ: لا أَزَالُ هَكَذَا حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا أَوْ يَتُوبَ اللَّهُ عَلَيَّ

Artinya: Dan mengikat diri Abu Lubabah selama tujuh hari, padahal cuaca sangat panas. Ia juga tak makan, begitu pula tak minum. Ia berkata; “Aku tak akan menyesal memperbuat begini, sehingga meskipun karena ini aku berpisah dari dunia, atau Allah mengampuni dosa ku”.

Ya, benar. Pemuda itu tak lain tak bukan ia adalah Abu Lubabah bin Abdul Munzir, beliau merupakan sahabat Nabi yang di mana ia juga termasuk Assabiqunal Awwalun (Orang pertama yang masuk Islam). Lantas apakah alasan Abu Lababab menghukum dirinya saat itu di Nabawi?

Beliau sengaja menyakiti dirinya sendiri didasarkan atas penyesalan bahwa ia pernah  berkhianat kepada Rasulullah dengan membocorkan rencana perang baginda Nabi kepada Bani Quraizhah. Padahal saat itu Rasulullah memercayainya untuk menjadi utusan dalam upaya diplomasi dengan mereka.

Pada saat embargo ini, Abu Lubabah diutus oleh baginda Nabi kepada Bani Quraizhah sebagai utusan resmi. Hal ini pun sebenarnya atas usulan Bani Quraizhah untuk mengirim beliau, karena Abu Lubabah cukup dekat dengan Rasulullah.

Pergilah Abu Lubabah menemui mereka. Betapa senangnya Bani Quraizhah saat mengetahui bahwa utusan yang dikirim Rasulullah adalah Abu Lubabah. Sebab mereka mengetahui bahwa Abu Lubabah memiliki kedekatan emosial yang cukup besar dengan kaum suku Aus. Mereka pun menyambut kedatagan Abu Lubabah dengan sangat baik bak menyambut seorang raja.

Dalam buku at Tawwabin Ibn Qudamah, dijelaskan bahwa Abu Lubabah merasa iba ketika melihat kondisi Bani Quraizhah yang memprihatinkan (sebab dikepung dan embargo Rasul).
Kemudian tak lama dari itu, salah seorang dari Bani Quraizhah bertanya kepada Abu Lubabah.  “Wahai Abu Lubabah apakah kami harus tunduk dan mengikuti keputusan dan peraturan Muhammad?”

Abu Lubabah pun menjawab, “Ya”

Kemudian setelah itu, Abu Lubabah membocorkan berita kepada mereka bahwa kaum kafir yang berkhianat akan disembelih lehernya. Lalu, ia pun memerintahkan Bani Quraizhah untuk tak mau menerima penawaran tersebut.

Namun pada akhirnya beberapa saat dari itu, Abu Lubabah pun akhirnya menyadari kesalahannya tersebut.

Dalam satu riwayat Allah menurunkan Q.S at Taubah ayat al-Anfal ayat 27;

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَخُوۡنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوۡلَ وَتَخُوۡنُوۡۤا اَمٰنٰتِكُمۡ وَاَنۡـتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya; Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

Hal ini lah yang membuat Abu Lubabah menyiksa dan menghukum dirinya dengan mengikat dirinya di sebuah tiang tanpa makan, minum, dan tidur. Ia melakukan semua itu semata-mata karena beliau sangat menyesali dosa yang ia lakukan dan takut dengan murka Allah.

Setelah 7 hari menjalani hukuman. Allah pun mengampuni dosa Abu Lubabah, dengan  menurunkan ayat at Taubah ayat 102;

وَءَاخَرُونَ ٱعْتَرَفُوا۟ بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا۟ عَمَلًا صَٰلِحًا وَءَاخَرَ سَيِّئًا عَسَى ٱللَّهُ أَن يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: Dan orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

Inilah sepenggal kisah dari seorang Abu Lubabah. Pemuda yang bersikeras menghukum dirinya yang telah melakukan sebuah dosa yang sangat ia sesali telah dilakukannya. Semoga kisah inidapat menjadi pelajaran untuk kita agar senantiasa bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Wallahu ‘Alam

Leave a Comment