Yogi Setiady, Bocah 8 Tahun Putuskan Jadi Mualaf Karena Keinginan Sendiri

 Yogi Setiady mengucapkan dua kalimah syahadat di KUA Delta Pawan, Ketapang, Kamis (5/10) sore Yogi Setiady mengucapkan dua kalimah syahadat di KUA Delta Pawan, Ketapang, Kamis (5/10) sore ( Foto : Jawapos.com )

 

Muslimahdaily - Bukan kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetepi Allah-lah yang mrmberi petunjuk(memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-nya. (QS. Al Baqarah 272).

Siapa yang tahu, hidayah Allah datang dengan cara dan kisah yang tak pernah terduga. Hidup di tengah keluarga tanpa pengetahuan tentang Islam dan seluk beluknya, bukan berarti tak akan pernah menjadi bagian dari muslim.

Mualaf di saat dewasa bukan kisah umum lagi, mereka telah banyak melahap habis buku mengenai ketuhanan. Belum lagi pengalaman religius yang mereka alami semakin meyakinkan mereka tentang kebenaran agama Islam. Namun, lain hal bagi mereka dengan usia muda. Buku yang mereka baca tak sebanyak orang dewasa, serta pemahaman mereka belum cukup baik untuk menyerap intisari suatu pengalaman religius.

Yogi Setiady, usianya baru menginjak 8 tahun. Namun ia, telah berani memutuskan suatu perkara yang besar dalam hidupnya. Lahir sebagai anak dari pasangan yang menganut agama Kristen, Yogi kecil terus menerus mendapat asupan tentang konsep Trinitas Ketuhanan. Hanya lingkungan yang jadi satu-satunya sumber Yogi untuk mengenal Islam.

Allah dengan segala kuasanya memperlihatkan bahwa hidayah dapat datang kepada siapa saja. Bukan tanpa alasan Yogi tiba-tiba memutuskan untuk mengucap dua kalimat syahadat. Ia telah memperlihatkan ketertarikannya dengan Islam sejak usia dini. Orangtua Yogi sendiri merasa aneh setiap kali sang anak lebih senang dengan hal yang berhubungan dengan Islam dibandingkan agama sang orangtua.

Sang ibu, Eriyanti dengan terang menceritakan kisah anaknya yang sewaktu kecil selalu senang bila melihat masjid sambil mengucap ‘Ada alaaba’. “Maksudnya itu Allahu Akbar,” kisah sang ibu yang dimuat di akun Facebook bernama Hanny Kristianto.

Setiap kali Yogi diajak pergi ke gereja, ia selalu menolak bahkan meronta agar segera keluar dari gereja. Ia pun akan merasa risih setiap kali diajak pulang ke kampung halaman, ia tak betah karena takut tersentuh dengan anjing dan babi yang banyak berkeliaran. Tak seperti teman-teman seagamanya, Yogi sedari dini menolak untuk makan daging babi.

Ketertarikannya terhadap Islam terbawa hingga ia memasuki sekolah dasar. Pada masa awal sekolah, ia sangat senang jika mengikuti pelajaran agama Islam di sekolahnya, karena tak sesuai dengan agama yang dianut keluarganya, beberapa guru bahkan sempat meminta Yogi keluar kelas, namun akhirnya selalu sama, Yogi menolak. Ia juga meminta izin untuk ikut teman-temannya mengaji dan shalat.

Saat masih duduk di kelas satu, Yogi selalu menghilang pada saat menjelang maghrib dan Jumat siang hari. Tak mengaka, Eriyanti pernah bertemu Yogi sedang memakai baju koko dan kopiah milik temannya. Ketika ditanya, Yogi menjawab ia baru saja pulang dari masjid. Yogi pula yang seringkali melantunkan ayat Al-Qur’an atau sekedar shalawat di masjid dekat rumahnya.

Di rumah, Yogi bahkan melaksanakan shalatnya sendiri. Menggelar sajadah dari kain handuk dan mengucap bacaan shalat dengan yakin. Ia sering pula mengajak teman-temannya datang ke rumah untuk menjadi jamaah shalat yang diimaminya.

Terkakhir, Yogi meminta untuk disunat dan disahkan menjadi muslim. Orangtua Yogi pasrah hingga akhirnya mengizinkan Yogi mengucap dua kalimat syahadat. Didampingi orangtuanya dan dibimbing Ketua KUA Kecamatan Delta Pawan, M Syafi’ie, Yogi dengan lantang mengucap syahadat. Ia bahkan sudah hapal betul kelimat suci tersebut.

Setelah proses tersebut, Yogi melafalkan beberapa surat pendek yang memang sebelumnya sudah ia hapal. Surat Al – Fatihah, Al – Ikhlas, An – Nas, Al – Falaq, ayat kursi, do’a untuk orangtua, do’a makan, dan do’a do’a lainnya memang ia pelajari di masjid.

Sebagai orangtua, Eriyanti dan suami mengikhlaskan Yogi menjadi muslim karena keinginan itu datang dari diri Yogi sendiri. Mereka hanya dapat berharap agar Yogi terus dibimbing untuk mempelajari Islam lebih dalam.

Last modified on Kamis, 19 Oktober 2017 01:38