Ditolak Menjadi Pengikut Yahudi Menuntun Salahuddin Menemukan Cahaya Islam

Salahuddin Al-Brittani Salahuddin Al-Brittani ( Foto : Theguardian.com )

Muslimahdaily - Salahuddin Al-Brittani, sejak kecil  ia  sudah memiliki kepercayaan  pada  Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan yang meciptakannya dan menciptakan semua yang ada di langit dan Bumi. Namun ia masih belum menganut agama apapun. 

Ia juga memilikimasalah manajemen emosi dan sangat tempramen. Ia merasa sulit meredam amarahnya, seperti tidak mungkin untuk menemukan solusi. Semua ini mengarahkannya pada pertanyaan “Mengapa Tuhan berikan aku masalah ini?”, “Apa yang Tuhan inginkan dariku?”, “Apakah dia membuatku hampir depresi seperti ini untuk membuatnya senang? Atau akulah yang selama ini salah?”. Pada akhirnya pertanyaan itu membuat ia berpikir untuk menjadiorang yang lebih religius.

Pencariannya dimulai dengan membaca kitab suci umat kristiani. Karena ia pikir ini adalah agama yang paling dekat dengan dirinya dan lingkungannya. Salahuddin mulai mencari kebenaran dengan membaca perjanjian lama dan perjanjian baru, namun tak disangka ia malah menemukan banyak kejanggalan dan kontradiktif antara keduanya.

Menurutnya jika Tuhan memiliki agama dan suatu jalan atau sistem untuk manusia, maka pasti bukan sesuatu yang menyesatkan dan merupakan jalan kebenaran. Setelah membaca kedua perjanjian tersebut, ia berkesimpulan bahwa kristen bukanlah untuknya, dia tidak bisa percaya yesus sebagai anak Tuhan atau sebagai Tuhan itu sendiri. Sesuatu yang tidak mungkin, ujarnya.

Yahudi menjadi kisah perjalanan Salahuddin selanjutnya. Ia mulai milhat titik terang pada agama ini, banyak hal yang membuatnya tertarik. Menurutnya perjanjian lama yang ia baca, cocok dengan hukum yahudi. Ajaran yahudi sangat memikat hatinya, ia mulai mempelajari lebih dalam mulai dari cara beribadahnya, bagaimana ketatnya aturan mereka hingga apa yang mereka lakukan dalam hidup. Salahuddin melihat bagaimana orang yahudi mendedikasikan hidupnya untuk Tuhan. 

Semua pelajaran ini memotivasi dirinya untuk mulai melakukan ibadah seperti yang ada dalam kitab yahudi, tentunya mencoba halal lifestyle juga. Pengalam ini menuntunnya untuk bertemu dengan Rabi seorang pemuka agama dari kalangan Yahudi, mendiskusikan untuk berpindah agama. Namun tak disangka, ia mendapat penolakan yang sangat jelas dari Rabi.

“Ia berkata padaku bahwa agama ini tidak cocok untukku, bahkan setelah pindah agama pun aku tidak bisa dianggap sebagai orang Yahudi. Ia beranggapan bahwa karena aku tidak bisa bahasa ibrani dengan lancar” ujar Salahuddin yang saat itu dirundung kekecewaan. “Mengapa Rabi menolakku untuk masuk agama Tuhan?”.

Lalu dia mulai berpikir, “Bagaimana jika aku mati sbelum menemukan kebenaran? Lalu apa yg akan terjadi?”. Karena dalam pikirannya jika ia mati maka ia akan dalam keadaan berdosa.

Setelah penolakan yang mengecewakannya, Salahuddin tak pantang menyerah. Ia tertarik untuk mencari di internet mengenai Agama yang perkembangannya paling pesat di dunia. Saatitupun ia terkejut, karena Islam lah hasilnya. Agama yang selama ini tak pernah ia minati, bahkan dirinya pernah berkata bahwa tak akan pernah menjadi seorang muslim.

Sulit untuk ia percaya, mengapa Islam? Karena Islam yang ia dengar dan ketahui selama ini di media, tv dan koran adalah tentang kekerasan. Mereka saling membunuh sesama muslim, mereka ingin menguasai dunia dengan kekerasan. 

Pada masa keraguannya akan islam, ia justru selalu mendengar kabar perkembangan Islam di dunia. Suatu hari ia bertemu seorang muslim di kampusnya, walaupun bukan orang yang religius. Salahuddin mulai menceritakan opininya tentang Islam pada temannya, muslim itu bilang bahwa media telah memanipulasi kebenaran Islam yang sesungguhnya. “Cobalah kamu membaca Al-Qur’an dan terjemahannya, nanti kau akan mengerti”. Perkataan temannya ini mengantarkan dia pada secercah cahaya.

Akhirnya ia mencoba untuk membaca kitab suci umat Islam, Al-Qur’an. Tak disangka oleh dirinya, ia menemukan banyak mukjizat dan hal-hal sains di dalamnya. Ia sangat terkagum dengan penjelasan Al-Qur’an, seperti bagaimana Allah menjelaskan tentang proses penciptaan Bayi dan bagaimana ia bertahan dalam rahim seorang ibu.

Banyak hal yang merobohkan opini Salahuddin selama ini terhadap Islam. Kehebatan Al-Qur’an yang diwahyukan kepada seorang Nabi berperilaku baik dan sederhana, tinggal di gurun pasir, tanpa pendidikan yang tinggi namun bisa membawakan mukjizat sehebat Al-Qur’an. Isinya mampu mengalahkan ilmu pengetahuan modern yang saat ini baru ditemukan, sedangkan Qur’an sudah ada sejak 

1400 tahun yang lalu. Semenjak itu ia mulai mencari tahu siapa Nabi Muhammad dan menjadi muslim setelahnya. 

“Islam telah mengubahku” ujar Salahuddin dengan yakin. Semua kebiasaan buruknya seperti minum alkohol, bermain wanita hilang sudah. Ia mulai mencoba shalat tepat waktu, dan menjalankan semua kewajiban dengan baik. “Menjadi Islam adalah menjadi diri sendiri, tapi tanpa kebiasaan buruk”.  

Terakhir pada sesi wawancaranya dengan Roadside To Islam, ia memberikan pesan pada Non muslimyang juga sedanmencari kebenaran.

“Jangan lihat agama Islam atau agama lainnya dari orang lain atau media. Kamu harus membaca Al-Qur’an sendiri dan memutuskannya sendiri. Karena sesungguhnya jika kamu mencari kebenaran maka Allah akan tunjukan kebenaran itu,tapi jika kamu mencarikesalahan maka kamu akan menemukannya. Karena kamu akan mendapatkan apa yang kamu cari, jika kamu tulus mencari kebenaran maka mulailah dengan Al-Qur’an.”

Leave a Comment