Lika-Liku Perjalanan Ema Yulianti Mengenal Islam

ema yulianti ema yulianti (youtube.com/annabatv)

Muslimahdaily - Setiap orang tentu memiliki cara tersendiri untuk menuju Tuhan-Nya dan mencapai jalan kebenaran. Ada yang telah mendapatkannya dari lahir, ada juga yang harus berjuang melewati segala rintangan. Namun, janji Allah memang selalu benar, disamping kesulitan pasti ada kemudahan, setiap ujian yang diberikan pada hamba-Nya, akan disesuaikan dengan kemampuan mereka.

Rintangan tersebutlah yang dialami oleh mualaf berdarah Tionghoa bernama Ema Yulianti. Ia mengisahkan cerita perjalanannya untuk memilih Islam di Youtube Channel Annaba TV.

Ema lahir di tengah keluarga yang beragama Konghucu dan aktif mengikuti rangkaian ibadah yang ada di dalamnya. Namun, seiring berjalannya waktu, mulai tumbuh banyak pertanyaan dan keraguan dalam diri Ema. Terutama tentang konsep Tuhan yang selama ini ia sembah.

"Kok katanya Tuhan itu satu, tapi kenapa bayak perantara, kenapa harus menyiapkan sesajen untuk para dewa, kenapa saya harus setiap tahun mengadu nasib, kemudian menyerahkan sesajen untuk mereka agar hidup saya selamat. Bukannya agama itu mudah?" ujarnya.

Semenjak keraguan itu hadir dan Ema mulai mengetahui konsep Tuhan di dalam Islam, ia mulai berpikir untuk berpindah agama. Tetapi seorang teman mencoba untuk menahan Ema, agar ia tak persulit oleh keluarganya sendiri.

Gadis asal Bangka Belitung itu nampak tak bisa menahan rasa ketertarikannya dengan Islam. Terlebih dengan beberapa konsep yang merutnya jelas dan begitu menarik hatinya. Mulai dari konsep Tuhan yang Esa, keluarga dan pengasuhan anak hingga konsep kembali setelah
mati.

Kematian menjadi alasan terakhir Ema untuk segera memeluk Islam.

"Aku gatau kapan nyawaku di ambil, aku selalu berdoa, Ya Allah tolong sebelum Engkau ambil nyawaku aku masuk Islam dulu. Setelah itu gapapa Engkau ambil nyawaku, aku ikhlas," kata Ema.

Perjuangan Berhijab

Salah satu konsep dalam Islam yang Ema kagumi adalah kewajiban para wanita untuk memakai hijab dan menutup auratnya. Jikalau wanita lain ingin menampilkan kecantikannya dengan menampilkan rambut dan auratnya, Islam meberikan konsep wanita cantik sebagai mereka yang menutup aurat dan baik akhlaknya.

Konsep tersebut cukup untuk meyakinkan dirinya untuk berhijab sesuai dengan syariat. Meskipun banyak sekali rintangan yang harus Ema lalui. Mulai dari dijauhi teman hingga dipertanyakan banyak hal oleh keluarganya.Bahkan ia sempat berniat untuk melepas kembali hijabnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, Ema semakin yakin bahwa dengan hijab Islam berniat untuk menjaganya.

Dukungan dari Keluarga

Menjadi seorang mualaf tentu bukan hal yang mudah bagi Ema. Namun, ia selalu teringat sosok oma (nenek) yang selalu hadir untuknya dan menjadi orang yang pertama kali mendukung niatannya untuk menjadi seorang muslim.

"Oma aku walaupun dia beda sama aku, cuman dia sayang sama aku. Dulu waktu aku pertama kali Islam, dia yang bener-bener belain aku," ungkap Ema sambil tak tahan menahan haru.

Sosok oma juga yang selalu mengingatkan Ema untuk selalu memakai hijab bahkan membangunkannya shalat subuh.

Saat kondisinya sedang down banyak cobaan yang datang padanya, sosok keluarga terutama orang tua dan omanya selalu welcome dan menguatkan Ema.

"Kamu kalau Islam, Islamnya yang bener, jangan setengah-setengah. Dari situ aku semakin kuat untuk berhijab."

Setelah Ema menunjukkan wajah Islam yang baik pada keluarganya, semakin lama mereka pun percaya bahwa gadis ini berada di jalan yang benar.

Ema akhirnya memutuskan untuk masuk pesantren untuk mendapatkan pendidikan dan pembelajaran yang menyeluruh. Karena ia ingin membangun karakternya menjadi seorang muslim sejati.

Ujian Setelah BerIslam

Ema mengaku bahwa sebelum masuk Islam hidupnya berjalan sangat mulus. Namun, setelah Islam, begitu banyak cobaan dan ujian yang menimpanya. Mulai dari menghadapi usaha keluarga untuk mengembalikan Ema pada agama sebelumnya hingga perjuangan mendapat restu orangtua demi memperdalam ilmu agama di pesantren haru ia lalui.

Sempat merasa ragu dan bertanya-tanya pada takdir. Tetapi perkataan dari seorang teman telah menyadarkan Ema.

"Kamu tuh masuk Islam ga mungkin dicoba, pasti dicoba. Dalam Al-Quran aja udah dibilang tidak akan suatu kaum bilang beriman sebelum dia dicoba. Jadi kamu jangan berharap untuk hidup enak. Seringan dan seberat apapun Allah akan coba kamu. Buat tahu, kamu serius gaksih untuk mendekat kepadaKu," ujarnya.

 

 

 

Last modified on Rabu, 24 Jun 2020 17:39