Mantan Petinggi Partai Anti-Islam, Kini Jadi Mualaf yang Taat

Arnoud Van Doorn Arnoud Van Doorn ( Foto : RTLNIEUWS.NL )

Muslimahdaily - Arnoud Van Doorn, seorang mantan politikus dan petinggi partai kebebasan (PVV) di Belanda kini menjadi mualaf. Terlahir sebagai pemeluk agama Kristen yang kuat, dan kritis terhadap Islam. Dulunya, ia memiliki pandangan yang buruk terhadap Islam, seperti selalu menindas wanita, masalah terorisme, dan lain sebagainya.

Arnoud bersama PVV kerap menyebarkan propaganda kebencian terhadap Islam, bahkan ia pernah terlibat dalam pembuatan film ‘Fitna’ yang menghina Nabi Muhammad SAW yang lantas dikecam banyak umat Islam di dunia.
Dilansir dari Channel YouTube Ape Astronaut, Jumat (05/11). Arnoud Van Doorn menceritakan bagaimana dulu pandangannya terhadap Islam sangat buruk, kejam, menindas wanita, masalah teroris, dan lain sebagainya.

Ketika diajak Geert Wilders untuk membangun partai bersama, ia tertarik hingga resmi menjadi bagian didalamnya. Tak lama, Arnoud juga menjadi anggota dewan Kota Den Haag melalui kemenangannya di pemilihan.

Tiga tahun menjalani sebagai anggota di dalam PVV, Arnoud mulai merasakan keraguan di dalam dirinya, setelah mendengarkan banyak muslim yang meluruskan bahwa pandangannya mengenai Islam adalah salah. Hal tersebut tidak membuat ia heran, karena mereka bagian dari Islam.

Sempat tak peduli mendengar hal tersebut dari mereka yang muslim. Arnoud merasakan pergolakan pada dirinya, ia merasa apa yang dilakukannya adalah salah.

Ada sesuatu di dalam diri saya berkata, 'Ini tidak baik, ada sesuatu yang salah. Saya ingin tahu lebih banyak tentang ini, apakah Islam benar-benar jahat?'," Ucap Arnoud van Doorn.

Tidak hanya sebuah perasaan yang timbul, ia juga mencari tahu ajaran agama Islam, seperti membaca buku, Al Qur'an, sunnah, hadist dan lainnya. Sejak saat itu pandangannya berubah. Tak seperti yang dipikirkan sebelumnya, Ia merasakan sebuah hal yang bijaksana dan kedamaian di dalam Islam. Arnoud pun semakin giat mempelajari lebih jauh.

Hingga akhirnya, seorang rekan muslim mengajaknya untuk pergi ke masjid, walaupun sempat menolak karena khawatir banyak orang yang akan menyerangnya. Namun, rekannya berhasil meyakinkan Arnoud dan pergi bersama ke masjid di Kota Den Haag.

Begitu tiba, ia disambut dengan sangat baik dan ramah meskipun mereka mengetahui dirinya yang seorang anti-Islam. Arnoud juga diundang untuk berbincang bersama dengan kaum muslim di sana. Saat itulah ia menyadari bahwa muslim tidak sejahat yang dipikirkan.

“Saya tak tahu persis apa yang terjadi, tapi sesuatu di dalam, sulit untuk dijelaskan, seakan berkata pada saya, 'Ini sebenarnya adalah agama yang bijaksana. Ini agama yang indah, ini sangat damai.' Ketika berada di masjid, saya benar-benar merasakan kehangatan. Saya tidak menyangkanya dan sedikit bingung," Kata Arnoud.

Arnoud yang kini bingung dan kembali merasakan gejolak. Hingga harus terjaga dari tidurnya ia terus memikirkan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya. Pada akhirnya ia memutuskan kembali ke masjid tersebut untuk berbincang dengan kaum muslim di sana. Arnoud mulai membaca dan belajar dengan banyak ulama serta orang Islam. Melewati kebimbangan selama 6 sampai 7 bulan, ia pun berpikir bahwa sesuatu yang indah telah memasuki jiwanya.

Dua bulan berlalu, Arnoud terus memantapkan langkahnya dengan memutuskan untuk keluar dari PVV, ia merasa tempat itu tidak layak untuknya. Sebuah pertimbangan yang berat untuk melakukan hal itu. Sebab, setelah keluar dari PVV ia tak lagi memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap dan orang-orang pun mengetahui dirinya bagian dari anti-Islam.

Arnoud tak memperdulikan hal itu, ia tetap berpegang teguh pada batinnya yang terus yakin pada Islam. Setelah memperdalam Islam dan memutuskan menjadi mualaf. Arnoud juga berpikir untuk membantu para Muslim lain di Belanda untuk menyebarkan agama Islam. Ia yakin dengan segala kekuatan Islam, para politikus serta media anti-Islam akan kalah saat melawan Islam.

"Makin saya membaca tentang Islam, makin saya mempelajari Islam, berbicara dengan Muslim lain, makin terasa seperti, 'Inilah saya,' dan itu berakhir dengan syahadat tentu saja," kata Arnoud.

Last modified on Senin, 08 November 2021 11:48