Setelah Masuk Islam, Demi Beribadah Aku Berdusta Pada Ibunda

Ilustrasi Ilustrasi (Foto : Irna/Muslimahdaily.com)

Muslimahdaily - Beruntunglah bagi seorang anak yang dilahirkan sebagai muslim, apalagi hidup di tengah keluarga yang taat menyembah Allah, serta dididik dan dibesarkan bersama Al-Qur’an. Keberuntungan itu mungkin dengan mudah dimiliki banyak gadis di negeri mayoritas muslim, namun tidak bagi sosok inspiratif kita kali ini, panggil saja Husna(disamarkan).

Memiliki orang tua yang berbeda agama membuat gadis 17 tahun tersebut tak didapat bermimpi apalagi meraih kehidupan damai keluarga muslim. Husna sebetulnya memiliki ayah yang berstatus muslim. Namun sedari kecil ia berada di bawah asuhan dan didikan ibunda yang beragama Katolik.

Karenanyalah ia terbiasa hidup di lingkungan para penyembah Yesus. Pun dengan Husna yang rutin ke gereja dan mengiyakan trinitas dalam penyembahan. Jalan hidupnya berubah ketika Allah menakdirkan Husna untuk lebih dekat dengan Islam.

Caranya, tiba-tiba karena suatu hal, ia harus pindah sekolah ke sebuah home schooling saat masih duduk di bangku SMP. Di sana lah lingkungannya mulai berubah. Ia tak lagi berteman dengan remaja-remaja Katolik, melainkan para muslimah. Di sekolah barunya, ia mulai kembali menemukan tradisi Islam yang pernah dikenalnya dari sang ayah saat kecil dulu.

Saat kecil, ia sebetulnya telah dihadapi kebingungan yang teramat sangat. Mengapa terjadi dua keyakinan di dalam sebuah rumah, keyakinan mana yang harus ia pilih? Lalu jika ia dijanjikan surga dengan agamanya, bagaimana dengan ayahnya yang muslim? Belum lagi saat merayakan hari raya, jika teman-temannya bernatal ria dengan keluarganya, tentu itu tak terjadi di rumah Husna.

Dari sanalah sebetulnya kebimbangan hati Husna muncul dan menancap kuat di hatinya. Kebimbangan yang baru kemudian kembali mencuat untuk dipertanyakannya, saat ia menginjak usia belasan tahun.

Berada di lingkungan muslim membuat remaja cantik ini mulai tergerak untuk mengenal Islam lebih jauh. Apalagi kakaknya, sudah lebih dahulu memeluk ajaran Rasulullah. teman-temannya di sekolah pun begitu mendukung Husna untuk bersyahadat. Mulailah pertanyaan demi pertanyaan tentang Islam diajukannya pada teman-teman dan kakaknya.

Husna sudah lebih banyak mengenal Islam. Namun keinginan hatinya untuk berislam belum kuat. Apalagi jika mengingat kondisi keluarga dari pihak ibu yang siap mencemoohnya, memakinya jika ia mengubah keyakinan agama. Hingga kemudian ia melanjutkan SMA ke sebuah sekolah kejuruan perhotelan di Jakarta Barat.

Lagi-lagi, Husna merasakan sejuknya Islam yang diyakini sebagian besar teman-temannya. Tak sedikit dari mereka yang kemudian berbahagia menjawab segala pertanyaan Husna tentang Islam. Hingga suatu hari salah seorang teman Husna membaca ayat Al-Qur’an begitu indahnya. Mendengarnya, hati Husna begitu tergerak. Semangatnya berislam kembali membara.

Berbekal tekad yang kuat dan keberanian yang besar, Husna melantunkan syahadat di sebuah masjid dekat rumahnya. Padahal saat itu usianya baru 17 tahun. Hijrahnya pun kemudian disambut kegembiraan tak terkira oleh teman-temannya, juga kakak dan ayahnya yang muslim. Ia mengaku kedamaian dan ketenangan meliputinya setelah berislam.

Namun satu hal yang begitu sulit dihadapi, yakni tanggapan sang ibunda. Mau tak mau, Husna merahasiakan keislamannya dari wanita yang melahirkannya. Mau tak mau Husna harus berdusta kepada ibunda, acap kali waktu shalat tiba. Ia berislam secara diam-diam di rumah. Itu bukan hal mudah, namun Husna istiqomah di atas dien. 

Beban, sudah pasti. Merahasiakan suatu hal yang besar kepada ibunda adalah perkara yang sangat sulit. Namun lebih sulit lagi baginya jika mengungkapkan dan berterus terang pada ibunda yang pasti akan marah dengan keputusannya.

Dengan keislaman yang diam-diam, Husna pun belum bisa berjilbab karena sudah pasti sang bunda akan segera tahu perihal keislamannya. Ia pun enggan menyebarkan kabar keislamannya karena takut rahasia keislamannya terbongkar.

Beruntung ada ayahnya yang selalu mendukung bahkan membantu Husna. Si gadis belia itu pun berkeinginan agar Allah dapat membuka hati sang ibunda. Keinginan yang selalu ia lantunkan dalam doa itu, tak pernah putus diimpikannya.

Ia memiliki sebuah harapan agar seluruh keluarganya dapat menjadi muslimin dan belajar bersama tentang dienul Islam, meski dari nol. Husna membayangkan sebuah keluarga muslim yang dimilikinya, dengan kebahagiaan yang tiada tara, bersama-sama menikmati manisnya Islam.

Last modified on Rabu, 11 Juli 2018 22:37