Zara Glucht; Menjadi Muslim Aku Lebih Religius dari Suamiku

Zara Glucht Zara Glucht ( Foto : Telegraph.co.uk )

Muslimahdaily - Zara Glucht, seorang wanita Polandia, mengenal Islam pertama kali dari seorang pria yang kini menjadi suaminya. Setelah berislam dan menikah, Zara justru lebih religius dibanding sang suami. Bahkan ketika suaminya meminta ia melepas jilbab, Zara menolak. Ia bahagia dengan jilbabnya meski harus menghadapi islamophobia di tempat tinggalnya, Inggris. 

Dulu ia bernama Edyta Glucht. Setelah menjadi mualaf di usia yang terbilang muda, 22 tahun, ia mengubah namanya menjadi Zara. Kisah Zara bermula ketika ia masih tinggal di Polandia. Saat itu seorang sahabatnya memiliki pasangan seorang muslim. 

“Ketika aku masih tinggal di Polandia, seorang temanku memiliki pacar pria muslim. Aku ingat betul saat itu aku berkata pada ibuku, aku tak akan pernah berkencan dengan pria muslim. Aku tak akan mengubah agamaku,” ujarnya dikutip dari laman telegraph. 

Apa yang diucapkan Zara justru menjadi kenyataan. Apa yang diucapkannya justru dilakukannya. Zara yang bertemu seorang pria muslim kemudian jatuh hati. Ia kemudian mempelajari Islam dan ternyata hatinya tergerak. Dengan hidayah Allah, Zara kemudian tertarik pada risalah Rasulullah. 

Sejak kecil Zara beragama Kristen. Setelah menjadi mualaf, ia segera meninggalkan pakaian mini, minuman beralkohol, hingga high heels. Zara begitu antusias dengan ajaran Islam hingga selalu mempelajarinya. 

Saat ini, Zara telah menikah dengan pacar muslim nya itu dan membuka sebuah toko perak-pernik DIY. Pasangan itu pun telah dikaruniai dua orang anak yang lucu. Zara kemudian menyadari suaminya bukanlah seorang yang kuat dalam agama. Ia hanya dilahirkan dari keluarga muslim hingga menjadikannya seorang muslim. 

Justru Zara lah yang kemudian membawa cahaya Islam di dalam rumah tangganya. Ia yang menjadi penggerak untuk selalu mempelajari agama Islam. Ia pula memutuskan berjilbab meski suaminya terus menerus membujuk nya untuk tak berhijab. 

Entah dengan alasan apa suami Zara melayangkan berhijab. Mungkin karena gejolak islamophobia yang selalu menyudutkan wanita dengan jilbab. Tak sedikit muslimah berhijab di AS dan Eropa yang menjadi korban kriminalitas karenanya. 

Namun Zara justru berpikir sebaliknya. Ia tak pernah merasa khawatir tentang hal tersebut. Menurutnya, jilbab justru melindungi dirinya dari gangguan orang. Ia justru merasa orang-orang lebih menghormati nya setelah berhijab. 

“Ini tentang melindungi dirimu. Sejak aku mulai menutup diriku (dengan jilbab), aku merasa orang-orang lebih respek, mereka memandang berbeda. Orang-orang yang dahulu biasa mengganggu dan menggodaku, kini tak ada lagi,” tutur Zara. 

Ia pun mengaku suaminya merasa Zara lebih Islami darinya yang muslim sejak lahir. Keputusan beraneka berhijab adalah salah satu bukti keimanan Zara lebih kuat dari sang suami. “Dia (suami Zara) berkata padaku bahwa aku lebih mengetahui Islam dibanding dengannya, karena aku selalu membaca tentang Islam dan mempelajarinya. Aku ingin tau semua hal tentang Islam,” ujarnya. 

Seorang yang dilahirkan sebagai muslim, lanjut Zara, memang biasanya hanya menjalankan apa yang mereka lihat dari orang tuanya. Hal itu tak membuat semua yang dilahirkan muslim menjadi religius. “Aku lebih religius dari Suamiku,” pengakuan Zara. 

Ucapan Zara tentu begitu mengena bagi kita yang dilahirkan sebagai muslim. Seringkali kita jumpai para mualaf justru lebih bersemangat mempelajari Islam. Hal ini seharusnya membuat kita malu pada mereka dan pastinya malu kepada Allah. 

Belajar dari sosok Zara, jangan pernah berhenti mempelajari agama Islam. Sebagaimana Zara yang sangat bersemangat untuk memahami segala hal yang diajarkan agama rahmatan lil alamin ini, seharusnya seorang yang dilahirkan muslim jauh lebih bersemangat darinya. Hingga keimanan menangkap kuat seperti yang diucapkan Zara, “Aku merasa Islam adalah agama yang amat sangat tepat bagiku,” pungkasnya.