Kisah Perawat Cassie, Hidayah melalui Sang Pasien

Ilustrasi Ilustrasi ( Foto : Aboutislam.net )

Muslimahdaily - Cassie tak pernah menyangka seorang pasien yang ia rawat justru mengobati ruhiyahnya. Ia mengenal Islam dari pasiennya itu, seorang kakek tua pengidap alzheimer yang juga seorang muslim yang taat beragama meski kepikunan melandanya.

Saat itu usia Cassie baru 23 tahun. Ia baru saja lulus dari kuliah keperawatan dan mendapat tugas pertama sebagai suster rumah. Wanita muda nan cantik ini harus merawat pasien alzheimer yang berobat jalan.

“Pasienku seorang pria Inggris berusia 80 tahun yang bertahan dari penyakit Alzheimer,” ujarnya, dikutip dari laman aboutislam.net.

Saat pertama kali mendapatkan riwayat medis dan catatan hidup si kakek, Cassie terkejut. Pasiennya berstatus mualaf dan Cassie mendapatkan catatan tentang menu makan pasiennya yang harus halal. Artinya, ia juga harus memberikan obat yang halal pula.

“Aku harus memperhatikan pengobatan yang mungkin bertentangan dengan imannya. Aku pun mencoba beradaptasi dengan merawatnya sesuai keyakinannya. Aku juga memasak daging halal untuk menunya. Aku juga memastikan tak ada unsur babi atau alkohol di dalam pengobatannya. Aku melakukan penelitian bahwa semua itu dilarang di dalam Islam,” kisah Cassie.

Awalnya Cassie merasa lelah karena harus mengeluarkan tenaga lebih untuk mencari makanan dan obat halal. Namun ia telah berkomitmen sebagai tenaga medis untuk merawat pasiennya. Ia pun bertekad bulat akan menjalankan tugasnya hingga akhir.

Ternyata memang itulah jalan yang ditakdirkan Allah untuk Cassie. Ia terpilih dari sekian banyak hamba-Nya yang berkesempatan mengenal cahaya Islam. Dari ketelatenannya itu, sang suster sedikit demi sedikit mulai mengetahui tentang Islam. Berawal dari penggalian info tentang makanan halal, Cassie mengetahui tentang agama terakhir ini.

Pengetahuannya makin bertambah ketika beberpa pekan merawat si kakek, Cassie selalu melihat aktivitas rutin kakek yang menurutnya sangat unik. Ya, shalat, Cassie melihat pasiennya begitu rutin menjalankan shalat meski ia telah renta dan menjadi pikun karena alzheimer.

“Setelah beberapa pekan merawat pasienku, aku mulai memperhatikan pola aktivitasnya. Pertama kali kupikir itu hanya gerakan berulang yang ia lihat dari seseorang. Namun ternyata aku melihat dia mengulang gerakan itu di waktu tertentu saat pagi, siang dan petang,” ujarnya.

Gerakan itu, lanjut Cassie, adalah mengangkat tangan, membungkuk, lalu meletakkan kepalanya di tanah. Cassie pun merasa ganjil apalagi ketika ia mendengar si kakek ternyata mengucapkan sesuatu berbahasa asing.

“Aku tak tahu dan mengira ia tengah ngelantur berpidato bahasa asing. Tapi kok ternyata ia mengulang kata-kata yang sama setiap hari,” tuturnya.

Akhirnya Cassie terpanggil hatinya untuk mencari tahu aktivitas si kakek. Ia pun diberitahu bahwa pasiennya itu melakukan shalat, ibadah di dalam Islam. Awalnya Cassie tak percaya, hingga kemudian ia mendapati video tentang shalatnya seorang muslim dan ternyata sama persis yang dilakukan pasiennya pengidap alzheimer.

“Aku terkejut… Seorang yang kehilangan semua ingatannya, lupa tentang anaknya, lupa tentang pekerjaannya dan kesulitan makan dan minum, ternyata mampu mengingat tak hanya gerakan ibadah namun juga bacaannya yang merupakan bahasa asing.” Kata Cassie, begitu terkejut sekaligus takjub.

Cassie pun penasaran dengan agama yang diyakini pasiennya. Ia merasa saatu hal yang luar biasa terjadi pada diri si kakek. Dengan bantuan dari grup muslim paltalk. Cassie mendapat terjemah Al-Qur’an dan rekaman bacaannya.

Ia pun sempat mendengarkan surat An Nahl pada pasiennya hingga membuat kakek itu berlinangan air mata. Cassie penasaran dengan terjemahannya. Saat membacanya, ia pun tahu alasan mengapa kakek menangis saat mendengarkan surat tersebut.

Dibantu teman chat muslimnya pula, Cassie mendapat info masjid di sekitar tempat tinggalnya. Ia pun kemudian kesana tanpa ragu dan mendapat sambutan yang ramah dari imam masjid dan istrinya. Segala pertanyaam Cassie dijawab dengan lengkap. Ia pula diberi beberapa buku tentang Islam. Setelah beberapa waktu mempelajari Islam, Cassie pun memantapkan hati untuk bersyahadat.

“Aku tak dapat menggambarkan perasaanku saat mengucapkan syahadat. Itu seperti seseorang membangunkanku dari tidur kemudian melihat segala sesuatu lebih terang. Perasaan itu beradu antara kesenangan, clarity dan most of all, kedamaian,” ungkapnya.

Setelah bersyahadat, Cassie yang yatim piatu itu segera mengabarkan keislamannya pada pasiennya. Sebelum Cassie mengucapkan kata-kata, ternyata si kakek seakan telah mengetahuinya.

“Aku pergi menemuinya dan sebelum aku membuka mulut, dia menangis dan tersenyum padaku,” pungkasnya.