Kisah Nabi Sulaiman Rela Menyembelih 20 Ribu Kuda

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Nabi Sulaiman diberi kekuasaan yang sangat agung. Tak hanya memiliki kerajaan megah dan pasukan dari kalangan jin, beliau juga dianugerahi kuda ajaib yang tenang saat diam namun kencang saat berlari. Jumlahnya bahkan mencapai 20 ribu ekor.

Kuda-kuda Nabi Sulaiman berlari dengan tiga kakinya melayang di udara. Karena itulah kuda-kuda itu dapat berlari sangat cepat. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa sebagian kuda-kuda itu memiliki sayap layaknya pegasus.

Selain berlari kencang, kuda-kuda itu pun sangat elok dan kuat membawa beban berat. Nabi Sulaiman biasa memanfaatkan kuda-kudanya untuk berjihad di jalan Allah. Kuda-kuda itu pula yang selalu mengantarkan sang nabi ke suat tempat dengan cepat meski membawa beban berat.

Namun secara fitrah, manusia diciptakan dengan kesenangan terhadap perhiasan dunia. Pun dengan Nabi Sulaiman. Putra Nabi Daud tersebut sangat menyukai kuda-kudanya. Inilah harta dunia yang menarik perhatian sang raja paling agung sepanjang masa.

Hingga suatu hari, Nabi Sulaiman terlalaikan dengan kesenangannya tersebut. Beliau merawat kudanya, memandanginya, dan mengurusnya hingga petang tiba. Padahal kala itu Nabi Sulaiman belum menunaikan shalat Ashar.

Begitu teringat dari kelalaiannya, Nabi Sulaiman pun menyesal dengan sangat. “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan.”

Nabi Sulaiman pun segera memerintahkan pasukannya untuk membawa semua kuda-kudanya. “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku!” perintah sang raja.

Di tangannya telah siap alat tajam untuk menyembelih setiap ekor kuda yang ia punya. Ratusan ekor kuda super cepat itu pun disembelihnya karena tak ingin terlalaikan lagi dalam beribadah. Nabi Sulaiman merelakan kesenangannya terhadap kuda karena kecintaannya kepada Allah.

Diganti dengan yang lebih baik

Allah selalu mencintai hamba yang meninggalkan sesuatu karena takut dan harap kepada-Nya. Sebagaimana yang termaktub dalam hadits Rasulullah, “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah kecuali Allah akan memberimu (sesuatu) yang lebih baik daripadanya.” (HR. Ahmad dan Baihaqi).

Nabi Sulaiman meninggalkan kuda-kuda yang ia senangi karena Allah. Ia tak ingin dilalaikan oleh urusan duniawi hingga meninggalkan ibadah kepada-Nya. Karena itulah Allah kemudian memberikan balasan yang jauh lebih baik dari kuda-kuda tersebut.

Tak tanggung-tanggung, Allah memberikan Nabi Sulaiman sebuah kemampuan mengendalikan angin. Dengannya sang nabi tak memerlukan kuda ataupun hewan lain sebagai alat transportasi. Sungguh sebuah ganti yang jauh lebih baik nan istimewa.

Angin berhembus ke mana saja sesuai perintah Nabi Sulaiman. Nabiyullah dapat melakukan perjalanan sebulan hanya dengan sekejap dengan angin tersebut. Bahkan setiap kali sang utusan Allah melintasi wilayah dengan angin tersebut, maka suburlah tanah yang ia lewati.

Itulah balasan yang diberikan Allah untuk Nabi Sulaiman yang meninggalkan kesenangan duniawi karena-Nya. Bukan mengambil kenikmatan tersebut, Allah justru memberi ganti sekaligus tambahan yang jauh lebih baik berlipat-lipat ganda.

Kisah Nabi Sulaiman diabadikan dalam kitabullah sebagai pelajaran untuk umat ini. Rabb Ta’ala berfirman, “(Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore, maka ia berkata: ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.” (QS. Shaad: 31-33).

Pun dengan balasan yang diberikan kepada Nabi Sulaiman, disebutkan Allah dalam firman-Nya, “Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya.” (QS. Shaad: 36).

Hikmah

Sungguh di setiap kisah dalam Al-Qur’an mengandung banyak pelajaran. Kisah ini pun mengajarkan bagaimana Nabi Sulaiman sangat menjaga ibadahnya dan berhati-hati terhadap segala yang melalaikan.

Padahal Nabi Sulaiman tidaklah meninggalkan ibadah shalat Ashar. Beliau hanya terlupa shalat di awal waktu akibat lalai dengan kuda-kuda kesayangannya. Nabi Sulaiman shalat Ashar di akhir waktu dan sangat menyesalinya hingga ratusan kudanya ia musnahkan karena dianggap membuatnya lalai.

Lalu, bagaimana dengan muslimin di masa kini, yang sebagian mereka gemar mengakhirkan waktu shalat tanpa alasan apapun, atau sekedar ingin memasang status dan mengobrol dengan teman melalui gadget? Waliyyadzubillah, mari berlindung dari nikmat duniawi yang melalaikan diri dan hati dari mengingat-Nya.

Last modified on Kamis, 24 Mei 2018 03:16