Mengenal Buraq, Kendaraan Rasulullah Saat Melakukan Isra Mi’raj

ilustrasi ilustrasi

Muslimahdaily - Saat melakukan Isra Mi’raj, diceritakan bahwa saat itu Rasulullah bersama malaikat jibril mengendarai makhluk bernama buraq. Namun, sebagian umat muslim mungkin belum mengetahui jelas bagaimana sosok makhluk tersebut.

Diceritakan dalam sebuah hadist bahwa suatu hari setelah Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam mengalami peristiwa Isra Mi'raj tersebut, beliau segera mengabarkan kepada para kaumnya bahwa ia telah di Isra-kan oleh Allah dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa hanya dalam satu malam.

Ibnul-Qayyim berkata, “Esok harinya Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam berada di tengah kaumnya, beliau mengabarkan apa yang diperlihatkan Allah, berupa tanda-tanda kekuasaan-Nya yang agung. Mereka pun semakin menjadi-jadi dalam mendustakan dan mengejek beliau.

Mereka meminta agar beliau menyebutkan ciri-ciri Baitul Maqdis. Maka Allah menampakkannya, sehingga beliau bisa melihatnya secara langsung. Seketika itu beliau mengabarkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka tidak bisa memberi bantahan sedikit pun.

Beliau juga mengabarkan tentang kafilah dagang mereka tatkala kepergian dan kepulangannya, tentang seekor unta milik mereka yang terlepas dai rombongan. Setelah kafilah itu tiba, maka apa yang disampaikan beliau itu cocok dengan keadaan sebenarnya. Namun, semua rentetan kejadian ini justru membuat mereka semakin lari dan menjauhkan diri dari orang-orang yang zhalim tidak menghendaki kecuali kekufuran.

Ada yang berkata, bahwa Abu Bakar Radhiyallahu Anhu dijuluki “Shiddiq”. Karena saat peristiwa ini hanya dialah yang membenarkan selagi semua orang mendustakan Rasulullah.

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra : 1)

Bagaimana bentuk buraq?

Buraq berasal dari kata bahasa Arab yaitu barqu yang berarti kilat. Jika barqu adalah kilat, maka buraq memiliki makna tunggangan yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan dengan sangat cepat seperti kilat.

Istilah kata barqu yang memiliki makna kilat dapat kita temui di dalam surat Al-Baqarah ayat 20.

“Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2:20]).

Selain itu, hadist di bawah ini juga telah menjelaskan ukuran dari makhluk buraq.

Hadis dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kejadian isra mi’raj. Salah satu cuplikan kisahnya,

Dibawakan kepadaku hewan tunggangan berwarna putih, lebih pendek dari bighal dan lebih tinggi dari pada keledai. Yaitu buraq. (HR. Bukhari 3207)

Bighal merupakan hewan hasil perkawinan campuran antara kuda dengan keledai.

Hadis dari Malik, Rasulullah bersabda,

Kemudian dibawakan kepadaku seekor hewan tunggangan putih, namanya Buraq. Lebih tinggi dari pada keledai dan lebih pendek dari bighal. Satu langkah kakinya di ujung pandangannya. Lalu aku dinaikkan di atasnya. (HR. Ahmad 17835, Muslim 164, dan yang lainnya).

Langkah kakinya, sejauh ujung pandangannya.

Sesampainya Rasulullah di masjidil aqsha, beliau mengikat buraqnya di tempat yang biasa digunakan para nabi untuk mengikat tunggangannya. Beliau mengatakan

Bisa diikat sebagaimana hewan tunggangan

Aku mengikat buraq di salah satu pintu masjid baitul maqdis, tepat di mana para nabi mengikatkan hewan tunggangan mereka (Muslim no. 162, Abu Ya’la dalam musnadnya 3375).

 

Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury dan laman Konsultasi Syariah.

 

Leave a Comment