Kisah Kecerdasan Nabi Sulaiman dalam Menyelesaikan Suatu Perkara

ilustrasi ilustrasi

Muslimahdaily - Nabi Sulaiman merupakan salah satu nabi yang mendapat warisan enabian dari sang ayah, yaitu Nabi Dawud. Sebagaimana tertera dalam firman Allah.

“Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud, dan dia (Sulaiman) berkata, “Wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh, (semua) ini benar-benar karunia yang nyata.” (Qs. An-Naml:16).

Allah memberikan banyak ujian kepada Nabi Sulaiman namun, disisi lain ia juga dikaruniai berbagai macam kebaikan oleh Allah. Salah satunya adalah ia terkenal sebagai raja dan pemimpin yang sangat cerdas dalam memutuskan berbagai macam perkara yang terjadi pada rakyatnya.

Dua diantaranya diceritakan dalam Kitab Kisah Para Nabi karya Imam Ibnu Katsir.

Kasus Sang Peternak dan Pemilik Kebun

Adapun mengenai pengambilan keputusan yang sesuai dengan hukum Allah, hal ini disebutkan secara eksplisit oleh Allah ketika memuji Sulaiman dan juga ayahnya dalam firman-Nya.

“Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu. Dan Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat), dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu.” (Qs. Al-Abiyaa: 78-79).

Qadhi Syuraih dan sejumlah ulama salaf menyebutkan bahwa kaum yang pertama adalah kaum yang memiliki perkebunan anggur, sedangkan kaum yang kedua adalah kaum yang memiliki ternak kambing. Setelah itu, kaum kedua menggembalakan ternak mereka di perkebunan anggur kaum yang pertama di malam hari, hingga ternak kambingnya memakan pohon-pohon anggur itu tanpa diketahui pemilik kebun.

Pemilik kebun pun megadukan keluhannya kepada Dawud, dan Dawud pun memutuskan bagi pemilik ternak untuk membayar ganti rugi kepada pemilik kebun.

Setelah itu, kedua pihak yang berseteru itu menemui Sulaiman dan Sulaiman bertanya, “Apakah yang diputuskan oleh Nabi Allah Dawud?” Mereka pun menerangkan apa saja yang diputuskan oleh Dawud.

Lalu Sulaiman berkata, “Kalau aku yang memutuskan, maka aku akan memerintahkan pemilik ternak untuk menyerahkan ternaknya kepada pemilik kebun, lalu mempekerjakan ternak-ternak itu hingga mendapatkan hasil yang sesuai dengan kerugian mereka. Setelah kerugian itu tertutupi, maka pemilik kebun harus mengembalikan ternak kambing itu kepada pemiliknya.”

Keterangan dari Sulaiman tersebut akhirnya diberitahukan kepada Dawud, maka Dawud pun memutuskan dengan keputusan dari Sulaiman.

Dua Ibu yang Berebut Hak Asuh

Makna yang hampir sama juga disebutkan dalam Kitab Shahihain, dari Abu Zinad dari A’raj, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Ketika itu, ada dua orang ibu yang masing-masing memiliki satu orang bayi. Kemudian salah satu dari kedua bayi tersebut diterkam oleh seekor serigala, hingga kedua ibu itu saling memperebutkan bayi yang masih tersisa. Wanita yang lebih tua berkata, ‘Serigala itu telah memakan anakmu. ‘Sedangkan wanita yang lebih muda juga berkata, ‘Tidak, anakmu lah yang dimakan oleh serigala itu.’

Menghadapi perkara tersebut, akhirnya kedua ibu tersebut menghadap kepada Dawud untuk mencari keadilan. Dawud memutuskan bahwa bayi itu milik wanita yang lebih tua. Namun, kemudian kedua wanita itu juga menghadap Sulaiman, dan Sulaiman berkata, ‘Ambillah sebilah pisau, karena aku akan membelah bayi ini menjadi dua, hingga setiap kalian akan mendapatkan separo dari bayi ini.’

Wanita yang lebih muda berkata, ‘Semoga Allah merahmatimu. Janganlah kamu melakukan hal itu, berikanlah bayi itu kepadanya, karena bayi itu adalah anaknya.’

Sulaiman pun memberikan bayi itu pada wanita kepada wanita yang lebih muda tersebut, karena ibu kandung dari bayi itu tentu tidak akan tega melihat anaknya akan dibelah menjadi dua.”

Sepertinya kedua hukum tersebut boleh diputuskan dalam syariat mereka, namun keputusan Sulaiman lebih diunggulkan, oleh karena itu Allah memuji dirinya atas apa yang telah Allah ilhamkan kepadanya. Allah juga memuji ayahnya.

“Dan Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat); dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya. Dan Kami ajarkan (pula) kepada Dawud cara cara membuat baju besi untukmu, guna melindungi kamu dalam peperangan. Apakah kamu bersyukur (kepada Allah)?” (Qs. Al-Anbiyaa: 79-80).

 

Leave a Comment