Kisah Nabi Musa dan Kemurkaan Allah yang Tidak Menurunkan Hujan

ilustrasi ilustrasi

Muslimahdaily - Dalam Al-Quran Allah mengisahkan tentang bencana yang diturunkan oleh-Nya kepada Fira'un dan kaumnya selama bertahun-tahun lamanya. Mereka mengalami musim panceklik yang menyebabkan kekeringan di tanah Mesir hingga tidak ada tanaman yang tumbuh dan tak ada susu hewan yang dapat dimanfaatkan.

Kekeringan tersebut merupakan suatu bentuk pelajaran bagi Fira'un dan kaumnya, namun mereka tetap saja tidak takut dan tetap pada kekufuran dan keingkaran. Kemudian apabila kebaikan datang pada mereka, maka kesombongan itu seketika muncul. Mereka berkata bahwa semua itu terjadi atas usaha mereka sendiri.

Beberapa kali Nabi Musa alaihissalam mengajak untuk beriman, mereka selalu berpaling. Meminta bukti kekuasan dari Allah, namun ketika diberi bukti mereka mengelak dan tetap tak mau beriman.

Hingga pada suatu hari mereka meminta Nabi Musa untuk berdoa kepada Allah agar menurunkan hujan di tengah kekeringan tersebut.

Nabi Musa kemudian mengajak mereka untuk beroda bersama di tanah lapang, "Wahai Tuhan penguasa hujan, turunkanlah hujan.”

Namun, saat itu hujan tak kunjung turun. Mereka pun kembali memohon pada Allah, “Wahai Tuhan penguasa hujan, turunkanlah hujan.”

Musa kemudian berkata, “Ya Allah, biasanya Engkau selalu mengabulkan permohonan kami, mengapa kali ini hujan tidak kunjung turun?”

Setelah Nabi Musa berkata demikian, Allah menjawab. Bahwa hujan itu tak bisa turun karena di antara mereka ada orang yang berbuat maksiat selama 40 tahun lamanya. Kemaksiatan itulah yang menyebabkan hujan dari langit tak bisa turun. Allah memerintahkan agar orang yang berbuat maksiat itu keluar dari tanah tersebut.

"Saudara-saudaraku Bani Israil, aku bersumpah bahwa di antara kita ada orang yang bermaksiat selama 40 tahun. Akibatnya Allah tidak menurunkan hujan untuk kita. Ia tak akan turun hingga orang itu pergi, maka usir orang itu darisini," ujar Musa pada kaumnya.

Mendengar hal tersebut, orang yang berbuat maksiat tersebut akhirnya tersadar. Ia berharap ada orang yang melangkahkan kakinya keluar dari tanah itu, namun nyatanya tak ada seorang pun yang mengaku. Hingga akhirnya ia pun mengaku dan berdoa kepada Allah.

“Ya Allah, aku telah bermaksiat kepada-Mu selama 40 tahun. Aku mohon Engkau menutupi aibku. Jika sekarang aku pergi, pasti dilecehkan dan dipermalukan. Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Terimalah taubatku dan tutupi aibku ini.”

Seketika hujan pun turun, hal ini membuat Nabi Musa dan kaumnya terheran. Karena ia belum melihat siapapun yang pergi dari tanah itu. Kemudian Allah menjawab kebingungan Musa.

Allah berfirman, “Musa, hujan turun karena Aku gembira, hamba-Ku yang bermaksiat kepada-Ku selama 40 tahun itu telah bertaubat.”

Nabi Musa kemudian memohon kepada Allah untuk ditunjukkan siapa orang yang telah bertaubat itu. Namun, Allah Sang Maha Pengasih dan Penyayang dan selalu menutupi aib hamba-Nya menjawab, “Musa, ia bermaksiat kepada-Ku selama 40 tahun, dan semuanya Kurahasiakan. Mungkinkah setelah sekarang ia bertaubat, Aku akan mempermalukannya?”

Masya Allah, betapa luasnya ampunan Allah pada hamba-Nya. Meskipun hamba-Nya telah bermaksiat berpuluh-puluh tahun, Allah tetap memaafkannya bahkan menutupi aibnya.

Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa dosa dan maksiat yang dilakukan sebagian orang bisa menghalangi terkabulnya doa, salah satunya hujan dari lagi. Oleh karena itu kita selalu diperintahkan untuk beristighfar.

Allah Ta’ala berfirman,

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Wallahu a'lam.

Sumber: Republika - Hikmah, Muslim Or id, Kitab Kisah Para Nabi - Imam Ibnu Katsir

Leave a Comment