Saat Nabi Zakaria Berdoa Meminta Keturunan di Dalam Mihrabnya

ilustrasi ilustrasi

Muslimahdaily - Al-Hafizh Abul Qasim Ibnu Asakir dalam kitabnya menyebutkan, nama nabi ini adalah Zakaria bin Berekhya. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa namanya adalah Zakaria bin Dan. Zakaria adalah ayah dari Nabi Yahya dan keduanya berasal dari Bani Israil. Salah satu ujian yang diberikan kepada Nabi Zakaria adalah sulit mendapatkan keturunan hingga usia tuanya. Terlebih istrinya saat itu juga mandul.

Sehingga ada satu doa yang sangat populer hingga kini yang saat itu dibacakan oleh Nabi Zakaria untuk meminta keturunan kepada Allah. Salah satu kisah yang juga mengesankan adalah saat Nabi Zakaria dan istri dipercaya untuk mengurus Maryam putri Imran.

Hal itu bisa terjadi karena nazar dari ibu Maryam. Sebagaimana dituliskan dalam Al-Quran, istri Imran yang saat itu sudah tua ia sangat menginginkan anak, jika terkabul ia bernazar akan memberikan anaknya ke penjaga Baitul Maqdis. Saat doanya terkabul, Maryam langsung menyerahkan bayinya pada pengelola Baitul Maqdis yang bernama Zakaria.

Maryam tumbuh menjadi anak yang cerdas sehat dan taat pada Allah. Maryam pun selalu mendapat makanan dan buah-buahan dari mihrab Zakaria.

''Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata; 'Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?' Maryam menjawab; 'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.'' (QS Ali Imran: 37).

Melansir dari Bincang Syariah, saat Nabi Zakaria mendengar kabar Maryam di mihrab tersebut, lalu ia berdoa dengan khusuk di tempat itu. Hal ini sesuai pernyataan Imam Suyuti dalam kitabnya, Al Isyabah Fi Al Da’awat Al Mustajabah, beliau memaparkan bahwa doa yang dikabulkan oleh Allah, di antaranya berkaitan dengan tempat, seperti Multazam, Raudhah, dan Mihrab tempat tinggal Siti Maryam, seperti dalam alquran surat Ali Imran ayat 38:

"Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.

Ibnu Asyur menambahkan bahwa Nabi Zakaria melihat ada hikmah yang luar biasa di tempat itu, maka ia berdoa dengan keyakinan doanya dikabulkan walaupun itu mustahil adanya menurut logika manusia.

Makna Mihrab menurut para ulama

Melansir dari Republika, beberapa ulama sepakat bahwa Mihrab yang dimaksud pada ayat tersebut adalah sebuah ruangan khusus di Baitul Maqdis (Al-Aqsa). Setiap selesai ibadah, Maryam akan mendapatkan makanan dari Allah.

Sejumlah ulama dan para sejarawan juga mengatakan bahwa Nabi Zakaria diutus menjadi nabi dan rasul di daerah Palestina. Pantaslah jika ia menjadi penjaga dan pengelola Baitul Maqdis pada saat itu.

Mengenai bentuk mihrab kala itu, sebagian ulama berpendapat bahwa mihrab adalah tempat memerangi setan dan hawa nafsu. Mihrab, menurut mereka, berasal dari kata al-Hurba yang berarti peperangan. Ada pula yang mengatakan bahwa mihrab merupakan suatu ruangan kecil di dalam masjid tempat mereka menghindari kesibukan duniawi.

Pendapat lainnya disampaikan oleh Dr Muhammad Taqiyuddn al-Hilali dan Dr Muhammad Muhsin Khan. Ia mengatakan bahwa mihrab adalah tempat shalat kecil atau ruang privasi dan bukan sebagai penunjuk arah kiblat, apalagi tempat imam memimpin shalat.

Sedangkan menurut Ibnu Katsir, mihrab yang dimaksud dalam ayat 37 surah Ali Imran itu bukan mihrab yang kita pahami seperi sekarang, yang digunakan tempat imam memimpin shalat. Melainkan dahulu mihrab adalah ruangan utama masjid yang biasa dipakai untuk ruangan utama shalat berjamaah.