Kisah Cinta Nabi Musa dan Putri Nabi Syuaib

ilustrasi ilustrasi

Muslimahdaily - Umat Islam tentunya sangat mengenal siapa itu Nabi Musa yang melawan raja yang sangat kejam, dan juga mengaku sebagai Tuhan bernama Fir’aun. Kisah Nabi Musa paling banyak tertulis dalam Al Qur’an. Selain kisah tersebut, Nabi Musa juga memiliki kisah cinta yang unik, saat ia bertemu jodohnya yang diberkahi Allah Subhanahu wa ta'ala.

Dalam Al Qur’an Allah telah menyebutkan dengan cukup rinci bagaimana Nabi Musa bertemu dengan jodohnya, interaksi antara mereka dan bagaimana mereka akhirnya menikah. Lalu bagaimana kisah perjalanan hidup dan kisah cinta Nabi Musa?

Nabi Musa 'Alaihissalam merupakan pangeran Muda di Mesir, ia tumbuh dalam kenyamanan yang hanya bisa diberikan oleh rumah kerajaan Fir’aun. Orang-orang dapat melihat bahwa ia adalah pria muda yang tampan, sehat dan kuat. Dikenal sebagai putra Raja Fir’aun dan Ratu Asiya, ia memiliki lengan yang kuat, wajahnya berseri-seri, dahi lebar serta mata yang cerah. Tentu saja, kemudaannya ini memang layak untuk diamati.

Dia memiliki setiap kenyamanan dan memiliki kebebasan penuh. Di sisi lain, kebijaksaan dan kecerdasannya juga menjadi bahan perbincangan di kota. Namun, orang-orang tidak mengetahui bahwa ini adalah tanda-tanda kenabiannya, yang suatu hari akan membawa celaka sang ayah sekaligus membebaskan orang-orang dari tirani Fir’aun.

Meskipun memiliki semua kenyamanan fisik, Nabi Musa selalu merasa gusar saat melihat kesombongan dan kekejaman yang dilakukan oleh Fir’aun. Pada akhirnya, orang-orang yang miskin, membutuhkan, dan tertindas mulai menyadari bahwa Nabi Musa sangat baik dan simpatik terhadap massa yang diperbudak. Jadi mereka mencari bantuannya di saat kesulitan. Nabi Musa juga bergegas membantu mereka dengan segala cara yang memungkinkan.

Belajar tentang pertengkaran yang dia alami dan bagaimana dia harus melarikan diri dari rumah. Musa melakukan perjalanan selama berminggu-minggu, dan akhirnya dia tiba di sebuah tempat bernama Madyan. Pakaiannya berpasir dan dia perlu mandi. Dirinya juga kekurangan makanan.

Teriknya matahari di kota Madyan pun membuatnya semakin tak kuasa membendung rasa haus. Beruntung ia segera menemukan sumber air di kota itu. Sebuah sumur yang sedang dikerumuni para penggembala untuk memberi minum kambing-kambingnya.

Ketika mengamati area sumur, ia tak sengaja melihat dua wanita tak jauh dari tempat itu yang sedang menahan kambingnya agar tidak minum air sumur bersama kambing-kambing para penggembala lainnya yang terdiri dari para laki-laki.

“Kenapa kalian tidak mengambil air sumur itu bersama mereka?” tanya Musa yang penasaran.

“Kami tidak dapat mengambil air sampai para penggembala pergi. Ayah kami sudah tua. Ia tak dapat menggembala dan mengambil minum sendiri. Karena itu, kami berlindung di tempat yang engkau lihat ini. Inilah nasib orang yang lemah. Orang kuat dapat minum air yang jernih, sedangkan yang lemah meminum air sisanya," kisah salah satu wanita.

Nabi Musa yang melihatnya pun merasa iba dan segera membantu mereka mengambilkan air dari sumur lainnya. Namun, sumur itu tertutup batu yang sangat besar. Bahkan hanya bisa diangkat dengan tujuh sampai sepuluh orang laki-laki. Tetapi, Nabi Musa mampu mengangkatnya tanpa bantuan siapapun. Padahal, saat itu ia dalam keadaan lelah, lapar, dan luka pada telapak kakinya.

Setelah mengambilkan air untuk dua wanita tadi, ia pun segera berteduh di bawah naungan pohon untuk mengistirahatkan tubuhnya yang semakin lemas. Lalu, ia bermunajat kepada Tuhannya, “Ya Allah, sungguh aku butuh makanan sedikit atau banyak untuk menghilangkan rasa lapar.”

Sementara itu, dua wanita tadi telah sampai di rumahnya dan menceritakan kejadian yang telah mereka alami kepada ayahnya.

“Undanglah lelaki itu kemari,” pinta ayahnya kepada putri sulungnya yang bernama Shafura.

Shafura’ bergegas pergi menemui Musa dengan malu-malu sambil menutupi kepala dan wajah dengan bajunya.

“Sungguh, ayahku memintamu untuk membalas kebaikanmu kepada kami. Ia juga akan memberimu upah karena telah mengambilkan air untuk kambing kami,” Kata Shafura’ dengan nada yang sopan.

Saat Shafura’ mengatakan “Untuk membalas kebaikanmu", wajah Nabi Musa terlihat kurang suka.

“Baik,” jawab Nabi Musa tanpa mengangkat kepalanya agar pandangan mereka tak bertemu. Ia mau menerima undangan ayah Shafura’ hanya untuk mengambil keberkahan saja, bukan untuk mencari upah.

“Berjalanlah di belakangku. Lemparkanlah krikil ke jalan yang benar sebagai petunjuknya,” ujar Musa kepada Shafura’ agar ia tak dapat melihatnya. Ia paham keadaan Shafura’ yang malu jika berada di depannya.

Sesampainya di rumah Shafura’. Musa disambut dengan hidangan makanan. Namun, ia justru menolaknya seraya berkata, “Sungguh kami berasal dari keluarga yang tidak menjual agama dengan dunia. Kami tidak meminta ganti atas amal kebaikan yang telah kami lakukan.”

Ayah Shafura’ yang ternyata Nabi Syuaib 'Alahissalam itu pun menjawab, “Ini adalah adat kebiasaan kami dan nenek moyang kami kepada setiap orang yang mengunjungi rumah kami. Orang yang melakukan kebaikan maka ia berhak diberi hadiah dan tidak haram mengambilnya.”

Maka Nabi Musa mulai mengenalkan dirinya kepada Nabi Syuaib bahwa dirinya bernama Musa yang berasal dari Mesir. Ia juga mengisahkan bahwa kedatangannya ke Madyan dengan berjalan kaki selama delapan hari untuk menghindar dari kejaran Fir’aun dan kaumnya yang hendak membunuhnya.

Ia memang telah membunuh salah satu kaum Fi’raun. Namun, hal itu dilakukan dengan tidak sengaja. Ia hanya membantu salah satu kaum Bani Israil dari golongannya yang sedang bertikai dengan kaum Firaun yang bernama Al-Qibthi. Tak disangka, dengan sekali pukulan dari Musa, Al-Qibthi tewas seketika.

Kota Madyan dipilih sebagai kota tujuan atas petunjuk dari Allah. Nasab antara orang Bani Israil dengan penduduk Madyan memang masih bersambung. Madyan berasal dari keturunan Nabi Ibrahim 'Alahissalam, sedangkan Bani Israil dari keturunan Nabi Ya’qub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim 'Alahissalam.

Musa juga mengisahkan tentang Fir’aun dan kaumnya yang kufur, sewenang-wenang, dan zalim kepada Bani Israil. “Jangan takut dan tenanglah. Perbaiki dirimu. Sungguh engkau telah selamat dari kekuasaan yang zalim dan engkau telah keluar dari kerajaan mereka. Tidak ada raja seperti mereka di negara kami," ujar Nabi Syuaib menenangkan Musa setelah mendengar kisah-kisahnya yang membuatnya cemas.

Tiba-tiba Shafura’ berkata, “Wahai ayahku, pekerjakanlah ia untuk menggembala kambing ini. Sungguh ia adalah pekerja yang paling baik karena ia kuat untuk menjaga binatang ternak dan mengurusnya. Ia pun dapat dipercaya yang tidak perlu dikhawatirkan akan berbuat khianat.”

“Apa yang kamu tahu tentangnya?” tanya Syuaib kepada Shafura’ yang sangat yakin Musa seorang yang kuat dan amanah.

“Ia mampu mengangkat batu yang besar ayah. Padahal, batu itu hanya mampu diangkat oleh sepuluh orang laki-laki," ungkap Shafura'.

“Ketika mendatanginya dan mengajaknya ke rumah memenuhi panggilan ayah, aku berada di depannya. Lalu ia berkata kepadaku, 'Berjalanlah di belakangku. Jika aku salah jalan, maka lemparkanlah krikil ke jalan yang benar sebagai petunjukku,'" tambah Sahfura' lagi.

Setelah mendengar penjelasan putrinya itu, ternyata Nabi Syuaib tidak hanya akan mempekerjakan Musa. Nabi Syuaib memiliki rencana lebih dari itu. Ia ingin menikahkan salah satu putrinya dengan pemuda shalih di hadapannya.

“Aku ingin menjadi mertuamu dan menikahkanmu dengan salah satu putriku ini. Pilihlah yang kamu inginkan. Mereka adalah Shafura dan Liya. Maharnya adalah engkau menggembala kambingku selama delapan tahun. Jika kamu rela ditambah dua tahun maka itu hakmu. Jika tidak, maka delapan tahun sudah cukup. Aku tidak akan membebanimu setelah itu. Insya Allah, kamu akan mendapatiku termasuk orang yang baik dan lembut dengan tamu," ujar Nabi Syuaib menyampaikan lamarannya.

Dengan penuh rasa ta’dzim, Musa pun memilih putri sulung Syuaib yaitu Shafura’ dan memilih menyempurnakan waktu pengabdiannya selama sepuluh tahun sebagai maharnya. “Allah menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan," kata Nabi Musa. Demikianlah Nabi Musa dan Shafura' resmi menjadi sepasang suami istri.

Sepuluh tahun kemudian, Musa kembali ke kota kelahirannya Mesir. Di tengah perjalanannya, Allah mengutusnya menjadi seorang rasul. Wa Allahu a’lam bis shawab.

Leave a Comment