Kisah Nabi Hud dan Adzab Kaum ‘Aad

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Nabi Hud ‘Alaihissalaam merupakan utusan Allah seperti disebutkan dalam shahih Bukhari, dikatakan bahwa Nabi Hud merupakan rasul yang diturukan di daratan Arab, seperti Nabi Nuh ‘Alaihissalaam, Shaleh ‘Alaihissalaam, dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Nabi Hud berasal dari kabilah Ad bin Aush bin Sam bin Nuh. Kabilah tersebut adalah bagian dari bangsa Arab yang tinggal dipegunungan-pegunungan pasir di Yaman, diantara Oman dan Hadhramaut, di kawasan sepanjang pantai bernama Syahrar, dan memiliki lembah yang bernama Mughits. Nabi Hud memiliki nasab Nuh bin Shalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh, namun ada juga keterang lain bahwa Hud adalah Abir bin Syalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh.

Kaum ‘Aad bermukim di perkemahan-perkemahan yang tinggi sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-fajr ayat 6-7 yang artinya, “Tidaklah engkau (Muhamma) memperlaukan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap (kaum) ‘Aad? (yaitu) penduduk Iran (Ibukota Kaum ‘Aad) yang mempunyai bangunan-bangunan tinggi.” Dan peninggalan kaum ‘Aad pun telah di teliti sekitar tahun 1998 Masehi di daerah Syasher di padang pasir Zhafar. Dan jarak penemuan itu sekitar 150 Km sebelah utara kota Shoalalah dan 80 Km dari kota Tsamrit.

Kaum ‘Aad sangat ingkar kepada Allah, bahkan mereka dijuluki sebagai generasi pertama yang menyembah berhala setelah banjir besar. Adapun nama berhala yang mereka sembah ialah Sadd, Samud, dan Hera. Selain itu, Mereka mengingkari adanya hari kebangkitan, mengingkari tubuh semua manusia yag bisa berdiri kembali menjata tanah dan tulang-belulang. Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surah Al-Mukminun ayat 35-39 yang artinya, “Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu)? jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu, kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi, Ia tidak lain hanyalah seorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepadanya". Dia (Hud) berdo`a: "Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku."

Jiwa menegakkan syariat pun menghiasi perjalanan dakwah yang ada dipelupuk mata Nabi Hud, walau ungkapan yang tak sepatutnya masih bisa didengar. Senantiasa menebarkan nasihat walau nasihat itu ditentang keras oleh kaumnya, dan mereka selalu menerka Nabi Hud bahwasanya dakwah beliau hanyalah untuk sebuah imbalan sehingga mereka mengatakan bahwa Nabi Hud adalah seseorang yang gila, sungguh ini sebuah fitnah yang teramat keji. Nabi Hud berdakwah penuh dengan keikhlasan nan tak pantang menyerah, di dalam membumikan Islam di hati kaumnya.

Kaum ‘Aad yang berwatak kasar, ingkar, semena-mena dan melampaui batas dalam menyembah berhala serta tak mempercayai akan adanya adzab dari Allah. Maka Allah pun menimpakan adzab yang sangat pedih, sebagaimana dalan al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 72 yang artinya, “Maka kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman.”

Allah mencabut kenikmatan yang telah mereka rasakan dengan kemarau yang panjang, tentu mereka sangat kesulitan, karena air merupakan sumber kehidupan, lalu Allah pun mendatangkan adzab-Nya untuk meluluh lantahlkan kaum ‘Aad. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Surah Al-Ahqaf ayat 21-22,

“Dan ingatlah (Hud) saudara kaum 'Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan), "Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar". Mereka menjawab, "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar". Ia berkata, "Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh". Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami". (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.”

Muslimah, sungguh Kisah Nabi Hud mengingatka kita pada pengorbanan seorang rasul dalam menyampaikan risalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, terpaan ingkar dari kaumnya tak menyulutkan bahkan memadamkan perjuangan, semoga sepenggal kisah Nabi Hud menjadi pelajaran yang kelak menjadi timbagan amal kebaikan.