Kisah Nabi Syu'aib dan Azab Kaumnya yang Curang

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Nabi Syu’aib AS. diutus untuk memberikan peringatan kepada kaum Madyan dan Kaum Akiah. Penduduk Madyan bertempat tinggal di dekat Gunung Sinai di negeri Syam atau Suriah. Mereka tidak percaya adanya Allah. Mereka juga sudah melupakan ajaran nabi yang telah diutus sebelumnya.

Pada zaman itu, kemaksiatan sudah menjadi hal lumrah yang dilakukan. Terlebih, kebiasaan buruk penduduk Madyan lainnya adalah kerap mengurangi takaran atau timbangan dalam berdagang. Barang-barang dagangan tersebut, bahkan dipalsukan. Melihat kondisi yang sangat meresahkan, Nabi Syu’aib memulai misinya dengan berupaya menyadarkan penduduk Madyan untuk menyembah Allah. Menjauhi segala bentuk kemungkaran dan segala macam bentuk kemaksiatan. Hal itu sebagaimana tertuang dalam firman Allah berikut ini:

 

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ قَدْ جَآءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُ


“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raf : 85).

Di sisi lain, kaum Madyan kerap menghalang-halangi para pengikut Nabi Syu’aib yang telah beriman. Sebagian dari pengikut Nabi Syu’aib, bahkan mendapatkan kekerasan dengan cara dipaksa untuk meninggalkan ajaran Nabi Syu'aib.

Seruan Nabi Syu’aib ternyata tidak digubris sedikit pun, mereka menentangnya dengan berkata: “Datangkanlah kepada kami siksaan yang kamu, ancamkan itu sekarang juga, jika kamu memang benar.” Di dalam kitab suci Al-Qur’an dijelaskan dalam surat Al-A’raf ayat 88 mengenai kaum Madyan yang menolak ajaran Nabi Syu’aib ini:

قَالَ ٱلْمَلَأُ ٱلَّذِينَ ٱسْتَكْبَرُوا۟ مِن قَوْمِهِۦ لَنُخْرِجَنَّكَ يَٰشُعَيْبُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَكَ مِن قَرْيَتِنَآ أَوْ لَتَعُودُنَّ فِى مِلَّتِنَا ۚ قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَٰرِهِينَ


“Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.” Berkata Syu’aib: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?”.

Dalam surat lainnya pun juga dijelaskan, sebagaimana dalam firman Allah berikut ini:

 

قَالُوا۟ يَٰشُعَيْبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ ءَابَآؤُنَآ أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِىٓ أَمْوَٰلِنَا مَا نَشَٰٓؤُا۟ ۖ إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلْحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ


“Wahai Syu’aib! Apakah agamamu yang menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami atau melarang kami atau melarang kami mengelola harta kami menurut cara yang kami kehendaki? Sesungguhnya engkau benar-benar orang yang sangat penyantun dan pandai.” (QS. Hud : 87).

Akhirnya, Nabi Syu’aib berencana untuk berhijrah bersama pengikutnya dari Madyan karena Allah SWT., akan segera mendatangkan siksaan-Nya untuk penduduk negeri itu. Sebelum pergi, Nabi Syu’aib berpesan kepada kaumnya:

فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَٰقَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّى وَنَصَحْتُ لَكُمْ ۖ فَكَيْفَ ءَاسَىٰ عَلَىٰ قَوْمٍ كَٰفِرِينَ

“Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanan Tuhanku, dan aku pun telah memberi nasihat kepadamu, maka bagiamana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir.” (QS. Al-A’raf ayat 93).

Tidak lama setelah itu, Allah menurunkan azab-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

فَأَخَذَتْهُمُ ٱلرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا۟ فِى دَارِهِمْ جَٰثِمِينَ

“Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka.” (QS. Al-A’raf : 91).

Setelah memusnahkan orang-orang yang durhaka di negeri Madyan, Nabi Syu’aib dan para pengikutnya hijrah ke negeri Aikah. Penduduk Aikah sama dengan penduduk Madyan, mereka bersikeras menolak ajaran yang dibawa oleh Nabi Syu’aib. Mereka menyembah Aikah atau sebidang padang pasir yang ditumbuhi pohon dan tanaman. Meski demikian, Nabi Syu’aib tetap menyeru kepada mereka agar tetap menyembah Allah SWT., dan mencegah berbuat kejahatan terhadap manusia. Seruan itu sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

قَالُوٓا۟ إِنَّمَآ أَنتَ مِنَ ٱلْمُسَحَّرِينَ

وَمَآ أَنتَ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا وَإِن نَّظُنُّكَ لَمِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ

فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ


Mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir, dan kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta. Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Asy-Syu’ara : 185-187).

Diterangkan sebagaimana dalam surat Asy-Syu’ara ayat 189 penduduk negeri Aikah juga mendapatkan azab.

فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ ٱلظُّلَّةِ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ


“Kemudian mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar." (QS. Asy-Syu’ara : 189).

Kaum Aikah pun mendapatkan balasan dari Allah dengan siksaan awan yang sangat terik panasnya. Sebagaimana balasan bagi orang-orang yang durhaka kepada Allah SWT. Bagi orang yang beriman, balasannya adalah keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Sahabat Muslimah, sungguh sangat tidak patut mengurangi takaran timbangan atau menjual barang dagangan palsu, sebab perbuatan itu sangatlah tercela. Timbangan dan takaran seharusnya diberikan secara adil agar rezeki yang didapat halal di sisi Allah. Kisah Nabi Syu’aib mengajarkan kepada manusia, bahwa Allah SWT sangat tidak menyukai orang yang zalim dan berbuat kerusakan di bumi. Niscaya, orang-orang tersebut bakal mendapatkan azab yang pedih dari Allah. Semoga, perjalanan kisah Nabi Syu'aib dapat menjadi pembelajaran kita semua.