Mengambil Hikmah dari Sifat Pemaafnya Rasulullah

Ilustrasi Ilustrasi

Muslimahdaily - Terkadang, memaafkan orang lain bisa menjadi sebuah tantangan bagi diri kita. Rasa kesal atau rasa kecewa yang ditimbulkan seseorang memang dapat menghantui hati ini, sampai akhirnya kita merasa sulit berlapang dada.

Namun, Islam mengajak kita untuk hidup damai dan tenteram. Kita juga diajarkan bahwa kehidupan bermasyarakat akan selalu lebih indah apabila setiap insan tidak saling berselisih. Walau terkadang sulit dan terlanjur merasakan pedih, ada banyak cara yang bisa kita terapkan untuk membersihkan hati dan membebaskan diri dari belenggu dendam.

Selain menanamkan pendirian bahwasannya setiap manusia tidak luput dari kesalahan, juga mengingat keutamaan yang Allah janjikan untuk seseorang yang memaafkan orang lain, kita juga bisa meneladani sifat pemaaf baginda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

Ada berbagai kisah yang mencerminkan kelapangan dada sang Nabi. Salah satunya adalah ketika perang Uhud sedang berkecamuk. Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam saat itu diminta oleh para sahabatnya untuk mendoakan orang-orang yang telah menyakiti beliau, agar mereka diberikan musibah. Namun, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam justru menjawab, "Aku sekali-kali tidak diutus untuk melaknat seseorang, tetapi aku diutus untuk mengajak orang untuk melakukan kebaikan dan sebagai rahmat,". Kemudian Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam mengangkat tangannya menengadah ke atas langit seraya berdoa, "Wahai Tuhanku ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui,".

Rasulullah juga terdiam dan tidak banyak berbicara di saat para sahabat naik pitam melihat seorang Arab Badui (suku pedalaman) kencing di dalam masjid. Ketika si Arab Badui telah selesai dan pergi meninggalkan masjid begitu saja, Rasul segera memerintahkan seorang sahabat untuk bertindak.

Tindakan yang dimaksud bukanlah menahan atau memberi hukuman bagi si Arab Badui, melainkan menyiramkan setimba air ke bekas tempat kencing tersebut. Rasulullah menyadari, orang Arab Badui memang hidup di pelosok dan jauh dari keramaian kota, membuat mereka belum banyak mengerti hukum. Meski perbuatan Arab Badui salah, sang Nabi Allah memaklumi ketidaktahuan Arab Badui tersebut dan memaafkannya dengan penuh ketulusan.

Kisah lain yang menyentuh hati adalah ketika Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menyambut Hindun bin Utbah dengan tetap bersukacita ketika wanita yang merobek dada dan memakan hati Paman Nabi itu memutuskan untuk mengucap syahadat. Hindun datang kepada Rasul dalam keadaan menutupi wajahnya dengan cadar agar tidak dikenali. Ia takut Rasulullah tidak mampu memaafkannya dan membalas perbuatannya dulu. Namun ketika cadar itu dibuka, Rasulullah berkata, “Ahlan wa sahlan, selamat datang untukmu (dalam agama ini).”

Begitulah tiga contoh kisah Nabi Allah yang dapat kita teladani dan refleksikan dalam hidup. Kita harus yakin, akan tercipta sebuah kehidupan yang mengesankan apabila hati kita lapang dan mau memaafkan kesalahan orang lain.

Leave a Comment