Muslimahdaily - Hidup bersosialisasi tak akan pernah lepas dari yang namanya konflik. Bukan mustahil bila manusia satu sama lain saling bersinggungan. Baik urusan sepela hingga urusan ketuhanan. Hal ini bahkan telah dijelaskan langsung di dalam Al Qur’an.
“Dan di antara manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu dan hanya mengikuti para setan yang sangat jahat.” (QS. Al Hajj: 3).
Dalam ayat di atas, disebut Al Jadalu (yujaadilu) adalah percakapan antara dua orang yang masing-masing dari keduanya ingin mendukung pendapat masing-masing dan membantah pendapat lawan.
Sejatinya, Allah tidak melarang perdebatan melaiankan dilakukan dengan cara yang benar sesuai syariat. Hal tersebut tercantum di Al Qur’an pada beberapa ayat, yaitu:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl: 125).
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik…” (QS. Al Ankabut: 46).
Perdebatan yang baik juga dicontohkan melalui kisah asy-Sya’bi dan raja Romawi. Keduanya tengah memperdebatkan firman Allah. Namun, as-Sya’bi mampu membalikkan tiap-tiap pertanyaan Raja Romawi dengan masuk akal tanpa harus melanggar ajaran tauhid.
Suatu ketika asy-Sya’bi, ulama dan tabi’in terkemuka di zamannya pergi menemui seorang Raja Romawi. Ketika berhadapan, Raja tersebut bertanya, “Di dalam Islam, kalian (kaum muslim) memiliki beberapa urusan yang tidak bisa diterima akal.”
Lalu asy-Sya’bi bertanya, “Apa yang ada di dalam Islam yang tidak masuk akal?”
Raja menjawab, “Kalian mengatakan bahwa di surga ada makanan yang tidak akan pernah habis. Kita mengatahui sesuatu yang diambil sedikit demi sedikit akan habis.”
Kemudian asy-Sya’bi berkata, “Tidakkah kamu melihat lampu, jika lampu menyala dan beberapa dunia memanfaatkan cahayanya, apakah cahaya tersebut akan berkurang.”
Belum puas, Raja Romawi tadi kembali bertanya, “Bagaimana kita makan atas apa yang kita dikehendaki di surge tanpa kita membuang hajat dan tidak memiliki kotoran badan?”
Lalu asy-Sya’bi membalasnya, “Apa pendapatmu dengan janin yang ada di dalam rahim ibu, apakah dia berkembang atau tidak? Dia berkembang hari demi hari. Dan, ini menandakan bahwa dia makan, kemudian apakah dia memiliki kotoran badan? Jika dia memiliki kotoran badan dan jika dia buang kotoran di plasentanya, ia bisa meninggal. Jadi, janin mengonsumsi makanan sesuai dengan kebutuhan pertumbuhannya tanpa menyisakan sesuatu dari makanan tersebut.”
Masih tak mau mengalah, Raja tersebut kembali mendebat, “Lalu, ke manakah perginya ruh setelah keluar dari tubuh?”
Asy-Sya’bi menjawab, “Dia pergi ke tempat sebelum berada di dalam dirimu. Di hadapanmu ada lampu minyak dan dia memancarkan cahaya. Kemudian kamu meniup lampu tersebut hingga mati. Maka, ke manakah cahaya tersebut?”
Setelah jawaban tersebut dilontarkan oleh asy-Sya’bi, Raja Romawi terdiam dan tak mampu melanjutkan perdebatannya dengan tabi’in cerdas tersebut. Dari kisah di atas, dapat kita ambil pelajaran bahwa sebuah perdebatan tak harus disampaikan dengan amarah dan menyalahkan pihak lawan.