Muslimahdaily - Virus corona bukanlah wabah pertama yang terjadi dalam sejarah. Bahkan sejumlah wabah pernah turut menghantui umat Islam, salah satunya pada masa kekhalifahan Sayyidina Umar bin Khattab Radhiyallahu'anhu.
Saat itu Umar sebagai seorang pemimpin tengah melakukan perjalanan dari Madinah menuju Syam bersama para sahabat. Perjalanannya kali ini bertujuan untuk membagikan harta warisan para sahabat dan menguatkan pasukan muslim di sana.
Ketika tiba di Sargh, sebuah wilayah sebelum Syam, Sayyidina Umar bertemu dengan rombongan Abu Ubaidah Al Jarrah. Mereka menyampaikan bahwa wabah tha’un teha menyebar di Kota Syam.
Setelah tahu kabar tersebut, Sayyidina Umar segera menggelar musyarah dengan para pemuka Muhajirin. Beliau juga meminta pendapat para ahli. Pada saat itu terjadi perbedaan pendapat di antara mereka.
Kemudian Sayyidina Umar memanggil para pemuka Anshar. Tak jauh berbeda, mereka juga menyampaikan pendapat yang berbeda-beda. Mereka memutuskan untuk membagi menjadi 2 kelompok, melanjutkan perjalanan ke Syam dan kembali ke Madinah.
Karena belum yakin, kali ini Sayyidina Umar menghadirkan pembesar-pembesar Quraisy yang berhijrah di masa pembebasan Mekkah. Ketiga kelompok tersebut akhirnya sepakat untuk kembali ke Madinah dan tidak melanjutkan perjalanan ke Syam.
“Besok pagi aku akan kembali (ke Madinah). Maka harap dimaklumi keputusan ini,” seru Sayyidina Umar menghakhiri musyawarah tersebut.
Mendengar keputusan Sayyidina Umar, Abu Ubaidah menyampaikan keberatan.
“Apakah (dengan keputusanmu) engkau hendak lari dari takdir Allah?” tanya Abu Ubaidah.
“Benar, kita hendak lari dari takdir Allah, kepada takdir Allah yang lain. Apakah pendapatmu andaikan engkau mempunyai sekumpulan unta yang memasuki dua jenis lembah, yang satu lembahnya subur, sementara yang satu tandus. Andaikan engkau mengembalakannya di lembah yang subur, maka sebenarnya itu takdir Allah, dan andaikan engkau mengembalakannya di lembah yang tandus, maka sebenarnya itu takdir Allah pula,” jawab Sayyidina Umar.
Pada saat keduanya berselisih, maka munculah Abdurrahman bin Auf yang baru datang dari sebuah urusan. Ia lantas berujar, “Aku tahu tentang masalah ini. Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Jika kalian berada di suatu tempat (yang terserang wabah), maka janganlah kalian keluar darinya. Dan apabila kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, maka janganlah kalian mendatanginya.’”
Mendengar hadits Nabi yang diucapkan Abdurrahman bin Auf, Sayyidina Umar berucap Alhamdulillah. Sayyidina Umar semakin mantap dengan keputusannya. Rombongan Sayyidina Umar memilih untuk kembali ke Madina. Semantara rombongan Abu Ubaidah tetap melanjutkan perjalannya ke Syam.
Kurang lebih 25 ribu hingga 30 ribu pasukan muslim meninggal akibat wabah tha’un ini. Bahkan beberapa sahabat juga turut menjadi korbannya.
Pada peristiwa ini Sayyidina Umar memutuskan empat kebijakan. Pertama, bermusyawah dengan para pemimpin, yakni pemuka Muhajirin, pemuka Anshar, hingga pemimpin Syam. Kedua, tidak memasuki daerah yang telah terkena wabah. Ketiga, menerima saran dan keputusan Amru bin ‘Ash yang meminta masyarakat naik ke bukit-bukit, meninggalkan kota Syam, dan tidak berkumpul. Keempat, usai wabah, mengunjungi dan memberi bantuan moril dan materil untuk para korban yang terkena dampak dari wabah tersebut.
Keempat kebijakan ini dapat menjadi pedoman tak hanya untuk para pemimpin di era sekarang, namun juga bagi masyarkat pada umumnya. Begitulah sosok Sayyidina Umar ketika memimpin dan memutuskan sebuah perkara. Dari beliaulah kita dapat banyak belajar.