Muslimahdaily - Suatu hari, Nabi Isa 'Alaihissalam mengutus salah seorang muridnya yang bernama Nauf untuk berdakwah kepada Raja Persia serta rakyatnya. Lantas orang tua tersebut segera memulai perjalanan jauhnya dari Yerusalem ke Persia.

Setelah menempuh perjalanan panjang, sampailah Nauf di gerbang ibu kota kerajaan tersebut. Ia kemudian menuju sebuah pasar dan melihat sekumpulan remaja tengah bersemangat bermain judi lempar dadu.

Maka diperhatikanlah wajah para remaja itu oleh Nauf. Mereka nampak bersemangat dan berlomba-lomba agar menjadi pemenang dan mendapatkan hadiah berupa dirham.

Nauf dengan cepat mempelajari aturan bermain lempar dadu. Ia pun ikut bermain dan mampu menang berkali-kali hingga membuat orang-orang terpana. Mereka bertanya-tanya bagaimana seorang Nauf yang sudah tua dapat mengalahkan anak-anak muda.

Salah satu dari anak muda tersebut hendak bertanya kepada Nauf. Ia merupakan anak dari seorang Menteri yang melayani Raja di sana.

“Wahai kakek, mari ikut ke rumahku. Aku mengundangmu untuk makan malam. Mungkin engkau bersedia memberitahu trik agar menang permainan ini,” ajak si pemuda.

“Aku tidak ingin ikut kecuali kamu meminta izin terlebih dahulu kepada ayahmu. Kalau diizinkan, aku mau menjadi tamumu,” ucap Nauf.

Si pemuda tadi pun lantas pergi hendak menemui sang ayah di kantor kementrian.

“Ayah, tadi aku sedang bermain dadu dan bertemu seorang kakek yang pintar. Aku sangat kagum sehingga memintanya untuk menjadi tamu di rumah kita. Tapi, ia hanya mau ikut bila engkau mengizinkannya untuk datang,” kisah si anak.

“Baiklah kalau begitu, jemputlah dia ke rumah kita,” ucap sang ayah memberi izin.

Dengan perasaan gembira, si anak kembali menemui Nauf. Sedangkan sang ayah pulang ke rumah untuk mempersiapkan makan malam.

“Wahai kakek, ayahku telah mengizinkanmu datang ke rumahku. Mari kita makan malam bersama,” ajak si anak muda.

Maka berjalanlah kedua orang tersebut ke rumah si pemuda. Saat hendak masuk ke dalam rumah, Nauf mengucap ‘Bismillahirramanirrahim’. Seraya ucapan tersebut keluar dari mulut Nauf, maka keluarlah setan-setan yang selama ini mendiami rumah sang Menteri.

Kemudian saat hendak menyantap sajian makan malam, Nauf kembali berucap ‘Bismillahirrahmanirrahim’, sehingga setan yang selama ini ikut makan bersama keluarga sang Menteri lari terbirit-birit meninggalkan mereka. Kejadian ini rupanya disadari oleh sang Menteri.

“Wahai orangtua, siapakah engkau sebenarnya? Sebab, aku melihat keajaiban yang belum pernah kusaksikan sebelumnya. Saat engkau memasuki rumah ini, setan-setan berhamburan keluar. Begitu juga saat engkau hendak makan, setan-setan yang selalu ikut makan bersama kami langsung melarikan diri,” ucap sang Menteri.

“Aku akan memberi tahu siapa diriku ini. Tapi, jangan sampai ada yang tahu tentang identitasku, kecuali bila aku mengizinkan engkau bercerita kepada orang-orang,” jawab Nauf.

Kemudian Nauf menjelaskan bahwa sesungguhnya ia merupakan utusan Nabi Isa ‘Alahissalam dan bahwa ia diminta untuk mengajak sang raja serta rakyatnya untuk menyembah Allah Yang Maha Esa. Sang Menteri dan keluarga percaya dan segera meninggalkan kepercayaan lama mereka.

Hari berlalu hingga suatu hari Nauf tengah berjalan-jalan di kota dan bertemu dengan sang Menteri. Wajahnya sedih dan terlihat meratapi sesuatu.

“Ada apakah wahai Pak Menteri?” tanya Nuaf.

“Kuda kesayangan raja telah mati. Padahal, hewan itulah yang amat dibanggakan selama ini. Bahkan, kuda tersebut lebih disayanginya ketimbang harta-hartanya yang lain,” jawab si Menteri.

Mendengar kabar tersebut Nauf meminta sang Menteri membawanya serta sapi yang mati ke hadapan raja. Setelah sampai, Nauf mengaku mampu menghidupkan kembali kuda kesayangan raja atas izin Allah. Nauf juga menyertakan syarat agar sang raja mendatangkan keluarga dan rakyatnya.

Esok harinya, keluarga beserta rakyatnya berkumpul di halaman istana. Sementara Nauf dan kuda yang telah mati berada di tengah-tengah mereka.

“Tiada Tuhan selain Allah,” ujar Nauf seraya memegang salah satu kaki kuda yang kemudian bergerak-gerak.

Kemudian Nauf meminta sang raja memegang kaki kuda yang lain. Begitu pula dengan istri dan anak-anak raja.

“Ucapkanlah Laa ilaaha illa Allah!” ucap Nauf.

Lantas kaki kuda yang tadinya kaku menjadi bergerak-gerak.

“Sekarang perintahkanlah rakyatmu untuk mengucap Laa ilaaha illa Allah,” perintah Nauf kepada raja.

Perintah tersebut disanggupi raja sehingga mereka yang hadir segera mengucap kalimat tauhid tersebut. Seketika, kuda yang tadinya sudah mati menjadi bangkit dan berdiri atas kehendak Allah.

Subhanallah, sungguh besar kuasa Allah. Demikian cara Nauf mendakwahi rakyat Persia yang dimulai dari rakyat biasa hingga sampai kepada sang raja.

Wallahu ‘alam.

Sumber:  Kitab al-Mawaizh al-Ushfuriyyah karya Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri yang dirangkum dari Republika.