Muslimahdaily - Dalam menjaga rumah tangga, baik suami dan istri memiliki perannya masing-masing. Menjadi seorang istri tentunya kita memiliki tugas untuk terus menghormati dan mendukung suami. Sama halnya dengan istri Nabi Ayyub 'Alaihissalam, Siti Rahmah. Kesetiaan dan kesabarannya yang tiada tara pantas untuk dijadikan pelajaran bagi kita semua.
Tentunya kita sudah mengenal sosok Nabi Ayyub. Beliau merupakan Nabi yang dianugerahi rejeki melimpah dari Allah Ta’ala, tanah yang luas, harta banyak, hewan ternak melimpah yang berada di daerah Hawran. Sementara sang istri, Siti Rahmah merupakan muslimah yang masih memiliki garis keturunan dari Nabi Yusuf 'Alaihissalam. Karenanya keluarga mereka cukup terpandang dan disegani masyarakat sekitar.
Namun suatu saat, Nabi Ayyub diberikan ujian oleh Allah. Semua kenikmatan yang dimilikinya dicabut secara satu persatu. Tubuh Nabi Ayyub dipenuhi penyakit dari kepala hingga ujung kaki. Harta kekayaannya berkurang secara perlahan. Begitu juga dengan keturunannya, perlahan anak-anaknya meninggal dunia hingga menyisakan Nabi Ayyub dan Istrinya seorang diri.
Melihat keadaan seperti ini, semua masyarakat menjauhi Nabi Ayyub karena jijik melihat kondisi tubuhnya yang penuh nanah dan takut tertular. Nabi Ayyub dan istri pun sampai diusir dari negeri mereka sendiri.
Akhirnya Siti Rahmah pun menggendong Nabi Ayyub keluar dari desa hingga sampailah mereka di sebuah gubuk. Karena tak tega membiarkan istrinya kelelahan harus merawat dirinya seorang diri, maka berkatalah Nabi Ayyub kepada Siti Rahmah, “Siti Rahmah, pulanglah. Aku rela jika engkau menjauh dariku."
Tanpa ragu, Siti Rahmah menjawab, “Tidak suamiku, kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan meninggalkanmu seorang diri disini, aku akan berada di sampingmu hingga akhir hayat.” Perkataannya tersebut sangat lembut dan menyentuh.
Tak seperti warga Hawran yang memandang jijik Nabi Ayyub, Siti Rahmah masih setia merawat Nabi Ayyub di tengah-tengah padang yang sepi, jauh sekali dari pemukiman warga.
Sungguh besar hati dan cinta Siti Rahmah kepada sang suami. Ia tetap setia dan sabar mendampingi Nabi Ayyub. Sama seperti Nabi Ayyub, Siti Rahmah pun juga tetap teguh kepada Allah ta’ala. Ia selalu berdoa dan bertasbih sambil terus meyakinkan dirinya bahwa semua ini memang hanya titipan dari Allah dan dirinya tidak memiliki hak apapun atas itu.
Dikisahkan, karena semakin lemahnya kondisi Nabi Ayyub, ia pun tidak bisa bekerja dan mencari nafkah untuk menghidupi dirinya dan sang istri. Akhirnya Siti Rahmah menggantikan posisi Nabi Ayyub dan mencari nafkah. Ujian lain datang saat Siti Rahmah dikeluarkan dari pekerjaan karena tahu dirinya merupakan istri Nabi Ayyub. Tapi ia tidak putus asa, ia terus berusaha mencari cara untuk bisa mendapatkan makanan.
Karena kesulitan mencari pekerjaan, Siti Rahmah sampai rela memangkas habis rambut berharganya demi ditukar dengan makanan. Mengetahui hal tersebut, Nabi Ayyub pun terkejut hingga air matanya mengalir deras. Tak hanya harus mengurus luka-luka sang suami, Siti Rahmah bahkan harus memangkas rambutnya demi agar Nabi Ayyub dapat makan.
Pernah pada suatu hari, datang iblis yang sudah geram atas kesabaran Nabi Ayyub dan istrinya. Iblis pun menyamar menjadi manusia dan menggoda Siti Rahmah seraya bertanya, “Mana suamimu, wahai hamba Allah?”
“Itu suamiku yang sedang menggaruk lukanya,” jawab Siti Rahmah.
Disitulah iblis menggoda Siti Rahmah dan menggoyahkan imannya dengan mengingatkan sosok Nabi Ayyub di masa lalu saat masih tampan, kaya, dan gagah. Tapi kini Nabi Ayyub sudah berubah menjadi orang yang lemah dan tak berdaya.
Iblis pun berkata, “Suruhlah Ayyub menyembelih anak kambing ini atas namaku. Niscaya ia akan sembuh.”
Siti Rahmah yang sudah tergoda akhirnya mendatangi Nabi Ayyub sambil membawa seekor anak kambing.
“Wahai Ayyub, sembelihlah anak kambing ini, sebutlah namanya, dan keluarlah dari penderitaanmu,” mohon Siti Rahmah kepada Nabi Ayyub.
Nabi Ayyub yang melihatnya kemudian mengingatkan, “Kamu telah didatangi musuh Allah yang mengembuskan perbuatan jahat dan kamu menurutinya. Menurutmu, siapa yang memberikan semua nikmat berupa harta, anak, dan kesehatan yang kamu tangisi tadi? Celakalah engkau! Engkau telah bersikap tidak adil kepada Tuhanmu. Mengapa tidak sabar menghadapi ujian yang menimpa kita seperti kita dulu hidup dalam kesejahteraan? Demi Allah! Jika aku sembuh, aku akan mencambukmu sebanyak 100 cambukan.”
Kemudian Nabi Ayyub mengusir Siti Rahmah dan tinggallah ia seorang diri tanpa makanan, minuman, dan juga teman. Akhirnya Nabi Ayyub bersujud kepada Allah mengadu sambil memuji Allah dan berdoa. Allah Ta’ala lalu memerintahkan Nabi Ayyub untuk menghentakkan kakinya ke tanah yang kemudian memancar air yang sangat jernih.
Nabi Ayyub pun mandi dengan air itu dan bersamaan dengan luruhnya air tersebut, penyakit yang dideritanya menjadi sembuh. Nabi Ayyub kembali menjadi pribadi yang tampan dan gagah seperti semula. Hal ini diceritakan dalam firman Allah dalam QS As-Shaad: 41-44.
Walaupun telah diusir oleh suaminya, Siti Rahmah tetap dilanda kegalauan dan terus memikirkan Nabi Ayyub yang kini sendirian tanpa siapa-siapa. Ia pun memutuskan untuk kembali menemui Nabi Ayyub.
Sampai akhirnya Nabi Ayyub dan Siti Rahmah dipertemukan kembali, Nabi Ayyub tidak lupa akan sumpahnya untuk mencambuk istrinya sebanyak 100 kali. Tapi kemudian Allah Ta’ala memberikan keringanan dan diperintahakannya Nabi Ayyub untuk mengambil seikat rumput yang berjumlah 100 buah lalu diikat menajdi satu. Nabi Ayyub cukup memukul istrinya dalam sekali pukulan. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah dalam Al Qur'an surat Shad ayat 44,
“Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).”
Sungguh mulia dan berbaktinya Siti Rahmah kepada Nabi Ayyub. Walaupun ditimpa banyak cobaan, dirinya tetap sabar dan setia menemani. Rasa cintanya yang besar tentunya bisa menjadi pelajaran yang bisa kita ambil.
Wallahu 'alam.