Muslimahdaily - Alangkah indahnya kisah kakek asal Malang ini. Saat ajal menjelang, ia dalam kondisi beribadah kepada Allah. Saat kembali kepada Rabb Sang Pencipta, ia pula dalam posisi bersujud kepada-Nya, di salah satu rumah-Nya, dengan cara yang begitu halus dan damai. Kakek itu bernama Miftach Arifin, pria berusia 63 tahun warga Kauman, Malang, Jawa Timur.

Kematian sang kakek ini kemudian menjadi viral di sosial media dan menggetarkan hati siapa saja yang melihatnya. Sungguh kematian datang dengan tiba-tiba dan sang kakek mengakhirinya dengan ibadah kepada-Nya. 

Kematian tak dapat diperkirakan waktunya dan sang kakek mengakhirinya di sebuah masjid dekat  rumahnya, Masjid Jami Babus Salam, masjid yang selalu menjadi tempat beribadahnya sehari-hari.

Dikabarkan portal liputan6, kronologis kematian Kakek Miftach bermula saat jamaah shalat Isya bubar dan meninggalkan masjid. Satu per satu pulang ke rumahnya namun Kakek Miftach tak kunjung bangkit dari sujudnya. Kala itu orang-orang tak menduga kakek meninggal. Mereka berpikir kakek hanyut dalam doanya saat sujud shalat sunah ba’diyah Isya.

Hingga kemudian pengurus masjid, Muhammad Sueb hendak menutup pintu masjid karena hari telah malam. Ia mulai merasa ganjil mengapa Kakek Miftach tak kunjung bangkit dari sujudnya. Sueb pun mendekatinya. Saat mendekat pertama kali, masih terdengar tarikan nafas Kakek Miftach. Namun di kali kedua, Sueb tak mendengarnya dan mulailah ia merasa sesuatu terjadi pada diri si kakek.

Ia pun pergi keluar masjid dan memanggil ketua rukun warga setempat, Hanafi, serta memanggil istri Kakek Miftach dan beberapa warga yang ada di sekitar masjid. "Saya sempat merinding. Pak RW juga datang dan membopong tubuh almarhum ke tempat tidur rumah. Saat itulah diketahui telah meninggal dunia," tutur Sueb kepada liputan6.com.

Video yang direkam ketua RW pun menyebar di kalangan warga. Mereka turut berduka dan merasa kehilangan sosok kakek Miftach yang dikenal baik dan humoris. Siapa sangka sujud menjadi ibadah terakhir dan penghantar jalan khusnul khatimah bagi sang kakek.

Disebut dalam hadits, meninggal dalam keadaan beramal saleh merupakan salah satu tanda khusnul khatimah. Dari Hudzaifah, beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan La ilaaha illallah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad).

Tentu kondisi khusnul khatimah sangatlah diidamkan muslimin. Adakah yang enggan meninggalkan gemerlap dunia ini dalam kondisi tengah berbuat baik. Apalagi hal itu menjadi tanda bahwa kelak di akhirat akan mendapatkan kenikmatan surga.

Namun tentu tidaklah mudah mendapatkan khusnul khatimah di akhir hayat. Padahal segala amal perbuatan kita di dunia akan dinilai berdasarkan akhirnya. Maka hanya orang-orang yang teguh dan istiqomahlah yang akan mendapat khusnul khatimah dan tentu dijanjikan dengan surga-Nya.

Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang melakukan perbuatan ahli surga sehingga jarak dia dengan surga hanyalah sehasta. Akan tetapi catatan mendahuluinya hingga akhirnya ia melakukan perbuatan neraka, maka ia pun masuk neraka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Dari hadits tersebut digambarkan bagaimana su’ul khatimah (akhir hayat yang buruk) membuat seorang menjadi ahli neraka. Bahkan sekalipun selama hidupnya ia beribadah dengan amalan-amalan surga. Itulah mengapa amal perbuatan dinilai berdasarkan akhirnya. Itulah alasan mengapa khusnul khatimah sangat diinginkan dan berusaha mendapatkannya saat ajal telah tiba. Bagaimana caranya? Dengan istiqomah dan berdoa kepada-Nya agar mendapat khusnul khatimah.