Muslimahdaily - Orangtua itu mata air spiritual pertama. Saat mereka lelap dalam tidurnya, tatap lekat-lekat wajahnya. Telusuri gurat-gurat lelahnya karena telah bersusah payah demi Anda, anaknya yang tidak akan pernah bisa membalas jasanya seumur hidup Anda. Lihat dekat-dekat tubuhnya yang mulai dimakan usia. Uban di rambutnya. Keriput kulitnya. Gelambir tubuhnya. Semua mulai aus dimakan zaman; dan Anda, barangkali, tidak akan pernah mengembalikanya. Anda mungkin saja tak akan mampu membahagiakannya secara utuh, lahiriah dan batiniah. Sebab, kasihnya abadi, pemberiannya tidak bertepi. Sementara Anda selalu merasa kurang puas atas laku mulianya.
Ibu. Dialah surga pertama. Kala ia hanyut dalam mimpi lelahnya karena memikirkan Anda, anak kinasihnya, pandangi dalam-dalam perjuangan fisiknya melahirkan Anda ke dunia. Rasa sakitnya yang tak terperi demi Anda, si jabang bayi. Ia merintih menahan pedihnya gejolak janin yang kelak mewujud menjadi putra-putrinya, Anda. Setelah itu, ia masih berjihad membesarkan Anda dalam buaian dan asuhan yang terbaik semampu mereka, dengan segenap energi yang dimiliknya, dengan sehabis-habis kemampuan yang dimiliknya. Dialah madrasah pertama hidup Anda seutuhnya. Dialah yang menanamkan benih-benih kebaikan dari jiwanya. Anda belajar sabar darinya. Kesetiaan. Ketulusan. Perhatian.Pengertian. Dan segala kebaikan yang kelak menyadarkan Anda.
Dia, perempuan “surga” Anda, memang tidak secerdas dan sepintar Anda. Dia juga barangkali tidak mencecap senarai ilmu yang kini Anda ketahui dan pahami. Bukan manusia sekolahan seperti Anda. Tapi, justru karena dialah, Anda bisa mengenyamnya. Ijazah dan gelar bergengsi yang melejitkan kedudukan Anda. Bahkan, ilmu yang tidak Anda alami di bangku sekolah, justru saripatinya bisa Anda dapatkan padanya; kebijaksanaan hidup yang bahkan kata pun tak mampu merangkainya. Karena dialah Anda akhirnya mengada. Dan Anda? Sudahkah Anda mengikuti jejak mulianya dalam meniti hidup Anda.
Ayah. Dialah pahlawan. Jika ia sedang mendengkur dalam tidurnya, dengarkan dengan sepenuh hati iramanya. Hmm. Harmoninya sungguh menyebalkan, barangkali, tapi rasakanlah dengan kalbu Anda dalam notasinya itu ada pikiran yang tak pernah jeri tentang Anda. Ada kerja keras dari ujung kaki hingga ujung helai rambutnya yang mulai berwarna perak, atau benar-benar k elabu semua. Ada tanggung jawab yang terus-menerus dipikulnya demi kebaikan Anda hingga sekarang ini. Dia, laki-laki juara satu Anda, barangkali, bukan laki-laki saleh, bukan tokoh agama, bukan orang kaya, bukan manusia yang namanya bisa melejitkan posisi dan status Anda, tapi karena dialah Anda bisa menikmati makanan dalam pelbagai rasa. Anda bisa mengenal A-B-C-D kehidupan, baik di dalam lembaga pendidikan, maupun tidak. Padanya: Anda belajar tanggung jawab, kerja keras, dan kasih sayang yang tak terurai dalam rumusan bahasa.
Ibu dan ayah. Mata air spiritual yang memang tak akan pernah lekang dimakan zaman. Meski Anda, jika ada yang tidak suka atas kelakuan mereka berdua, berusaha menghapusnya dalam sejarah Anda; niscaya alam dan waktu dan darah akan selalu menyimpannya di dalam benak Anda. Karenanya, menafikan mereka sebuah percuma saja, kesia-siaan. Hanya satu, jawabannya, mencintai mereka dengan penuh seluruh. Bukan, bukan mereka yang selayaknya menuntut dipahami, tapi Andalah yang seyogyanya memahami mereka. Itu bila Anda merasa lebih pintar, berpengalaman dan berwawasan ketimbang mereka berdua. Bukankah sudah selayaknya yang lebih “sekolahan”lah yang sejatinya memahami, bukan sebaliknya? Sebelum, mata air spiritual itu habis ditelan bumi [Baca : meninggal dunia], jangan pernah lelah mencintainya. Semoga surga sejati menanti Anda. Salam berkah selalu untuk Anda!