Muslimahdaily - Sejak dilegalkannya perkawinan sejenis (Gay Marriage) di Amerika pada tahun lalu, topik LGBT merupakan topik yang sering dibicarakan dan menuai kontroversi. Dilansir dari Wikipedia, LGBT adalah singkatan dari “Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender”. Singkatan ini dibuat dengan tujuan untuk menekankan keanekaragaman budaya yang berdasarkan identitas seksualitas dan gender.
Kaum homoseksual, biseksual dan transgender pun menggunakan istilah ini untuk menunjukkan diri. Di Indonesia, komunitas LGBT mulai banyak memperlihatkan jati dirinya dan menuntut haknya sebagai warga negara agar diperlakukan sama layaknya warga Negara lain. Hal inilah yang sering menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat. Sebagian masyarakat menilai LGBT bertentangan dengan ajaran agama. Sebagian lainnya justru meminta hak kaum LGBT agar diakui keberadaannya dan tidak dikucilkan. Selain itu, penyebab perbedaan orientasi seksual yang belum pasti pun menyebabkan topik LGBT ini semakin sering dibicarakan.
Menurut Psikolog Elly Risman pada acara Indonesia Lawyer Club beberapa hari yang lalu, ada beberapa faktor penyebab perbedaan orientasi seksual, yaitu :
1. Diabaikannya pendidikan seksualitas pada anak
Elly Risman menjelaskan bahwa seksualitas adalah bagaimana seseorang menunjukan dirinya, cara ia berpenampilan dan berperilaku. Sejak anak kecil, terutama pada umur 3 tahun, seharusnya anak sudah mengetahui apakah dia laki-laki atau perempuan , mereka juga sudah diajarkan untuk berpenampilan dan berperilaku sesuai dengan jenis kelaminnya. Tidak diberikannya pendidikan seksualitas oleh orang tua inilah salah satu penyebab anak tumbuh dengan kebingungan mengenai orientasi seksualnya, selain karena pengaruh penting lain seperti kelompok bermain (peers) dan lingkungan.
2. Pengenalan agama tidak ditangani oleh orang tua
Pengenalan agama yang tidak dilakukan langsung oleh orang tua mengakibatkan anak tidak mengenal mengenai agama dan aturan-aturannya sejak dini. Pendidikan agama yang juga sering diabaikan menyebabkan anak tidak memiliki pegangan yang pasti pada saat dewasa.
3. Peranan ayah yang kurang (fatherless)
Figur ayah sangat berpengaruh signifikan pada perkembangan anak, namun sayangnya peranan ayah sampai sekarang masih dianggap tidak penting dan sering diabaikan.
4. Pornografi
Menurut Elly Risman, LGBT juga bisa dipengaruhi oleh penggunaan alat komunikasi seperti “smartphone.". Elly khawatir, tontonan yang banyak dilihat anak lewat smartphone justru kegiatan seks sejenis. "Nah, otaknya anak belum bersambungan, masuk ke pusat perasaan, keluar cairan otak yang namanya dopamin yang membuat anak itu kecanduan, kencanduan dan kecanduan,” katanya.
Pertanyaan lain yang sering ditanyakan selanjutnya adalah apakah kaum homoseksual dan biseksual dapat dijadikan menjadi heteroseksual?
Menurut dr Fidiansyah, Psikiater dan Seksi Religi dan Spiritualitas, LGBT bisa disembuhkan dengan pendekatan 4 aspek yaitu biologi, psikologi, kognitif, dan modifikasi perilaku sosial lingkungan.
Pernyataan dr. Fidiansyah ini didukung oleh Praktisi hipnoterapi klinis, Widya Saraswati, CCH, CT, menyatakan pada Liputan6.com, kaum homoseksual dan biseksual bisa dipulihkan dengan teknologi pikiran. Selama penyebabnya bukan hormonal atau ketidakseimbangan kromosom XY, maka bisa dipulihkan menjadi heteroseksual.
Bila penyebabnya dipicu hal-hal yang terjadi di masa lalu seperti korban predator, figure otoritas agama, gaya hidup, atau luka batin yang membuatnya kini menjadi homoseksual dan heteroseksual, bisa dibantu pakar hipnoterapis klinis. Keberhasilan bisa terjadi dengan syarat orang yang bersangkutan mau dan menginginkan untuk berubah.