Muslimahdvaily - Seorang pria Muslim bernama Anis yang sehari-harinya bekerja sebagai supir bus untuk kru penerbangan Air France di Bandara Charles de Gaulle dipecat akibat melaksanakan shalat di tempat kerja.

Menurut Morocco World News, Anis sudah bekerja selama kurang lebih 15 tahun di bandara tersebut dan kasus ini terjadi karena tindakannya di tahun 2017 lalu. Ia melaksanakan shalat di dalam bus yang dikuncinya, salah seorang rekan kerjanya melaporkan hal tersebut ke kepolisian setempat.

Padahal, yang Anis lakukan tidak salah karena di dalam bus tersebut tidak ada penumpang, ia hanya seorang diri dan tengah melaksanakan shalat. Namun, hal ini menurut pemerintah setempat merupakan hal yang menjunjung radikalisme di dalam dunia kerja, ia pun dipecat pada Oktober 2020.

Tidak terima karena merasa tidak melakukan hal yang salah, Anis membawa kasus ini ke jalur hukum. Bahkan, pengacara Anis menginformasikan kepada Anadolu Agency bahwa yang dilakukan kepolisian dan pemerintah sangat keji, membentuk peranan Islamophobia yang semakin marak.

"Petugas kepolisian menganggap kewajiban beragama yang dilakukan seorang muslim setiap 5 waktu sehari (shalat) itu mengganggu keamanan publik. Ini adalah bentuk Islamophibia yang nyata," ujar pengacara Anis, Sefen Guez kepada Anadolu Agency yang dikutip oleh TRT World.

Menurut Anis, ia sangat merasa dirugikan akan hal ini karena ia hanyalah seorang Muslim biasa yang sama seperti muslim lainnya, melakukan shalat 5 waktu sehari. Ia tidak ada maksud untuk menyebarkan radikalisme atau ajaran yang bertentangan dengan agama Islam itu sendiri.

Keputusannya untuk mengajukan masalah ini ke ranah hukum karena ia memiliki 4 anak yang harus ia penuhi kebutuhannya, semenjak kasusnya yang melaksanakan shalat di tempat kerja dilaporkan ke kepolisian, perusahaan memblokir dirinya dari daftar pekerja yang tidak lagi bisa dia akses kembali.

Tidak hanya itu, alasan lainnya adalah ia ingin membenarkan nama Islam sebagaimana yang menjadi pandangan orang mengenai Islam adalah agama yang menuntut radikalisme. Kasusnya juga semakin memanas dan tetap berjalan setelah kasus pembunuhan guru sejarah Samuel Paty pada Oktober tahun 2020 lalu.

Kini, Anis beserta pengacara menanti kepastian hukum akan kasus yang melanda dirinya ini pada 25 Maret nanti.

Guez kembali memberikan pernyataan bahwa ia sangat menyayangkan tindakan pemecatan terhadap Anis, seharusnya jika ada larangan shalat di tempat kerja, Anis akan diberikan teguran terlebih dahulu. Namun, semua ini di luar nalar, ketika alasan memecat karena melaksanakan shalat adalah sebuah radikalisme.

Guez berharap hasil yang diberikan akan menguntungkan Anis dari segi hak dan kemanusiaan. "Saya percaya dan cukup optimis bahwa tindak keadilan dari sistem hukum yang berlaku akan tahu di mana letak kesalahan dan juga hak-hak yang perlu Anis peroleh kembali," tutup Guez.