Muslimahdaily - Di suatu desa dimana hiduplah seorang ibu miskin yang memiliki seorang anak kecil berusia 8 tahun. Ibu berusia sekitar seperempat abad tersebut telah lama ditinggal mati suaminya sehingga sehari-hari harus bekerja menggarap satu-satunya lahan pertanian mungil yang ditinggalkan oleh almarhum suaminya. Sumber penghidupan utama dari keluarga kecil yang hidup di gubuk sederhana yang hampir roboh tersebut adalah dari sawah yang saat itu sedang ditanami padi.

Selepas si anak pulang sekolah, si ibu berkata kepada si anak, “Nak, jagalah padi kita yang hampir menguning agar tidak dihabiskan burung pencuri. Ibu mau memasak sebentar. Nanti kalau makanan kita sudah matang, ibu akan bawa makanan kita ke sawah dan kita bisa makan bersama di gubuk sawah kita.”
Dengan patuh si anak pun berangkat ke sawah mungil yang letaknya hanya sekitar lima menit dari rumah mereka. Di sepanjang perjalanan banyak dilihatnya para petani menghalau padi mereka yang sudah menguning dari burung-burung liar yang mencuri bulir keemasan padi mereka. Ketika sampai di gubuk sawah mereka, si anak segera duduk di gubuk kecil yang terbuat dari bambu dan beratapkan jerami kering.

Hari itu udara cerah dan semilir angin menyejukkan badan dan pikiran. Dilihatnya di sawah milik almarhum bapaknya sang bunda sudah memasang kantong plastik berderet yang dijalin dengan tali rafia yang dibentangkan di seluruh badan sawah. Hanya dengan menggoyangkannya tali yang ditambatkan di gubuk sawah, tali dan plastik yang menggantung akan bergerak dan mampu mengusir burung-burung yang memakan padi mereka.

Setelah beberapa saat mengusir burung-burung pencuri tersebut dari sawah mereka, sang anak terdiam sambil berpikir. Kemudian dibiarkannya burng-burung tersebut kembali ke sawah mereka dan memakan bulir padi keemasan tersebut. Ketika sang ibu datang, sang ibu murka dan bertanya mengapa sang anak membiarkan burung-burung tersebut memakan padi mereka. Kemudian jawab sang anak, ”Ibu, aku melihat para petani lainnya mengusir burung-burung tersebut. Kemudian aku berpikir kasihan burung tersebut, mereka pasti kelaparan.

Kemudian aku berdoa ‘Ya Allah jadikan setiap bulir padi yang dimakan burung tersebut sebagai sedekah almarhum bapak dan juga ibu untuk burung-burung tersebut dan berikanlah pahala yang berlimpah atas sedekah tersebut kepada dua orang yang kusayangi.’ Allah Maha Baik, Ibu. Pasti sisa dari padi yang dimakan burung-burung tersebut masih lebih dari cukup untuk kita.” Kata sang anak dengan polos.

Sang ibu hanya bisa berlinang air mata melihat ketulusan dan kemuliaan hati sang anak yang merupakan warisan almarhum suaminya. Kemudian dipeluknya sang anak karena hari ini sang ibu belajar arti memberi dengan tulus, bahkan kepada makhluk Allah lainnya. Kisah inspiratif dari buah hatinya mengajarinya banyak hal tentang hidup dan juga Allah.