Muslimahdaily - Alkisah tinggallah seorang ibadah dari kalangan Bani Israil. Siang harinya diisi untuk mengaji Al Qur’an, sementara malamnya dihabiskan untuk mendirikan shalat malam serta berdzikir.
Sementara itu, hiduplah 3 laki-laki bersaudara yang memiliki satu saudara perempuan. Ketiganya hendak pergi berhijad di jalan Allah Subahanhu wa ta’ala. Mereka bimbang kepada siapa mereka merasa aman untuk menitipkan saudarinya tersebut.
Setelah mencari-cari, ketiganya akhirnya sepakat untuk menitipkan saudarinya kepada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil. Mereka mendatangi ahli ibadah tersebut dan memintanya agar diperkenankan untuk menitipkan saudarinya hingga mereka kembali dari perjalanan.
Awalnya, si ahli ibadah menolak permintaan tersebut. Ia takut terhadap godaan dan meminta perlindungan kepada Allah dari ketiga pemuda dan saudari perempuannya. Namun, karena didesak terus menerus, si ahli ibadah akhirnya menerima keinginan ketiga pemuda tadi.
“Tempatkanlah saudara perempuanmu di rumah dekat tempat ibadahku,” kata si ahli ibadah.
Maka tinggal perempuan itu di sebuah rumah dekat dengan ahli ibadah tersebut. Setelah beberapa waktu, si ahli ibadah turun dari tempat ibadahnya hendak membawakan makanan makanan. Maka dipanggilnya perempuan tersebut dan diminta untuk mengambil makanan yang telah disiapkan.
Bersamaan dengan itu, setan membisikkan tipu muslihat kepada si ahli ibadah. Setan membisikan rasa beratnya jika perempuan itu harus keluar dari rumahnya di siang hari. Ia menakut-nakutinya agar jangan ada yang sampai melihat perempuan tersebut. Akhirnya si ahli ibadah mengunci perempuan tersebut.
Bisikan setan tadi seakan-akan memintanya berbuat baik padahal menjerumuskan kepada dosa besar.
“Seandainya kamu mau datang membawa makanan untuknya dan engkau letakkan di pintu rumah yang ditinggali perempuan tersebut, niscaya engkau mendapat pahala yang besar,” demikian rayuan si setan.
Tentu tipu daya setan tak hanya sampai situ. Si ahli ibadah berjalan menuju tempat perempuan seraya membawa makanan yang diletakkan di depan pintu tanpa berbicara sepatah kata. Kejadian ini berlangsung selama beberap hari.
Pada suatu saat, diletakkannya makanan tersebut di depan pintu.
Hingga setan kembali membisikkan rayuannya, “Seandainya kamu mau berbicara dan mengobrol dengan perempuan tersebut, maka pasti dia merasa senang dan terhibur dengan obrolanmu lantaran ia kesepian.”
Maka berbincanglah si ahli ibadah dan perempuan tersebut.
Kemudian kembali membisikinya, “Seandainya kamu mau masuk ke dalam rumah perempuan tersebut, lalu kamu berbincang-bincang dengannya dan kamu tidak membiarkan dirinya menampakkan wajahnya kepada seorang pun, niscaya hal tersebut lebih baik bagimu.”
Lantas si ahli ibadah mendatangi perempuan tersebut dan berbincang seharian penuh. Hingga akhirnya setan menghiasi perempuan tersebut dengan kenikmatan duniawi. Si ahli ibadah pun terbuai dan menzinai si perempuan sampai hamil.
Belum usai, setan kembali membisiki si ahli ibadah, “Bagaimana pendapatmu, jika saudara-saudara ini datang, sementara saudarinya melahirkan anak-anak darimu, apa yang akan kamu perbuat? Pastilah keburukanmu akan terungkap atau mereka akan membuka keburukanmu. Oleh karena itu, datangi anak itu, sembelihlah dia, lalu kuburkan. Sungguh, si perempuan akan tutup mulut karena dia juga takut saudara-saudaranya tahu apa yang telah engkau perbuat terhadapnya.”
Lantas si ahli ibadah pun mengikuti bisikan setan, ia membunuh anak itu.
Kemudian si membisikinya lagi, “Apakah kamu yakin perempuan tersebut dapat merahasiakan pada saudara-saudara atas apa yang telah engkau perbuat terhadapnya dan perbuatanmu yang telah membunuh anaknya. Maka, tangkap perempuan tersebut, lalu sembelih, dan kuburkan bersama anaknya!”
Si ahli ibadah lagi-lagi menuruti bisikan setan. Ia menyembelih perempuan tersebut dan menguburkannya ke dalam lubang beserta anaknya. Menutupinya dengan batu besar, kemudian ia kembali ke tempat ibadahnya.
Setelah akhirnya ketiga pemuda kembali dari medan perang, mereka menanyakan perihal saudarinya. Si ahli ibadah mengatakan bahwa saudarinya telha meninggal kemudian mendoakan agar perempuan tersebut mendapat rahmat. Ketiga pemuda itu pun percaya dan pulang dengan perasaan sedih.
Malam harinya ketika ketiga pemuda itu tidur, setan mendatangi mereka di dalam mimpi. Setan menyampaikan kebenaran bahwa saudari mereka sebenarnya telah dihamili dan dibunuh. Ketiganya pun bangun dan menceritakan mimpi mereka. Anak pertama dan kedua hanya menganggap itu sebagai bunga tidur belaka. Namun tidak bagi anak ketiga. Ia hendak mendatangi si ahli ibadah dan membuktikannya sendiri.
Sampai di rumah si ahli ibadah, ketiga pemuda itu meminta penjelasan. Si ahli ibadah pun membenarkan perkataan setan. Maka dibawalah si ahli ibadah ke hadapan raja agar segera disalib.
Ketika si ahli ibadah diikat pada sebuah tiang hendak dieksekusi, berbisiklah si setan, “Jika kamu sekarang kamu mau menurutiku dan engkau kufur terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakanmu dan membentukmu, niscaya saya akan menyelamatkanmu dari keadaanmu sekarang ini.”
Si ahli ibadah memilih kufur kepada Allah, namun setan pergi meninggalkannya.